Home

CIC Christmas 2019

  • Posts

It’s almost that time of the year to celebrate the birth of our savior Jesus Christ. Let’s celebrate Christmas together in prayer. Join us for Christmas Eve Mass, Tuesday 9pm at OLR Kensington and Christmas Mass, Thursday 2pm at St Mary’s Cathedral.

A Note From Chaplain

TANDA DARI SURGA

Belajar dari Pater Jules Chevalier

Pater Jules Chevalier adalah seorang imam di paroki St. Cyr di Kota kecil Issoudun, Prancis. Sejak di Seminari dia merefleksikan situasi manusia. Dan dia menemukan bahwa situasi zaman pada zamannya, Perancis, di tahun 1850-an, diwarnai dengan fenomena egoisme dan indeferentisme. Indeferentisme yang dimaksud adalah sikap acuh tak acuh dan dingin kepada Tuhan. Orang tidak tertarik kepada ajaran Tuhan dan cenderung mengikuti pemikiran liberalisme.

Dia percaya bahwa ada harta yang terdalam dalam Hati Kudus. “Seperti kita ketahui, Hati Kudus adalah obat yang mampu mengubah dunia ini selamat”. Dengan menggunakan senjata ini, yakni Hati Kudus, para missionaris hendaklah melawan liberalisme. Menghadapi kekerasan hati kaum liberal adalah dengan senjata kelemah lembutan dan kerendahan hati. Dia tergerak untuk mendirikan Tarekat (kelompok religius) dan asosiasi awam yang dibaktikan kepada Hati Kudus Yesus. Tarekat itu akan menggunakan senjata Hati Kudus Yesus, untuk menghadapi keangkuhan kaum liberal. Hati Kudus yang penuh kerendahan hati dan kelemahlembutan akan menjadi senjata untuk memerangi situasi zamannya.

Maka dia menginginkan tanda dari surga apakah niatnya juga menjadi kehendak Tuhan atau tidak. Maka dengan sahabatnya, P. Maugenest, mereka berdua memulai novena. Untuk meminta tanda dari Surga. Dia peraya bahwa “Jika Tuhan menghendaki karya Hati Kudus, karya tersebut akan berhasil walaupun berbagai kesulitan yang amat besar menghadang. Yang penting kita yakin bahwa ini merupakan kehendak Tuhan. 

Pada tanggal 8 Desember 1854, pada hari kesembilan novena, ada umat yang datang memberikan donasi kepadanya yang jumlahnya cukup besar.  Donasi itu dijadikan oleh Chevalier, sebagai pertanda persetujuan dari Surga untuk merestui niatnya untuk mendirikan tarekat. Pada tahun berikutnya, dia memulai masa novisiatnya untuk menjadi biarawan MSC. Dan Tuhan telah, sedang dan akan memakai tarekat MSC untuk karya misi sampai ke ujung dunia. Kini Tarekat MSC yang lahir pada tanggal 8 Desember 1854 telah membuka banyak Keuskupan baru dan hadir di lebih dari 40 negara. CIC adalah salah satunya yang digembalakan oleh Pastor-pastor MSC. 

Pernahkan anda mencari tanda dari Surga?

Mencari Tanda dari Surga juga biasa dilakukan oleh banyak orang, termasuk anda. Waktu saya menjalani pembinaan di Seminari Menengah St. Petrus Canisius Magelang, kami memiliki tradisi pulang ke rumah jalan kaki  saat diterima di salah satu lembaga hidup bakti. Saya juga menjalaninya, berjalan kaki dari SMA ke rumah. Saya berdoa, Tuhan berikan petunjuk-Mu, kalau saya bisa pulang ke rumah tanpa halangan, berarti saya Engkau panggil menjadi imam. Jika ada halangan atau saya tidak kuat jalan kaki, mungkin bukan panggilan saya. Ternyata saya bisa pulang dengan selamat. Dan itu saya jadikan tanda bahwa menjadi imam adalah panggilan hidup saya dan saya jalani sampai sekarang.

Keputusan-keputusan Besar

Kita pasti juga pernah membuat keputusan-keputusan besar. Keputusan-keputusan itu sangat mempengaruhi hidup kita. Hidup kita tidak akan sama lagi dengan pilihan yang kita ambil. Misalnya akan menikah dengan siapa, tinggal di mana, profesi yang saya pilih, mengambil hutang di bank untuk membuka usaha, dan lain-lain. Keputusan-keputusan besar itu membutuhkan campur tangan Tuhan karena kita percaya kalau kita melakukannya sesuai kehendak Tuhan, maka bukan hanya kita saja yagn bekerja. Tuhan juga akan menyertai kita.

Mencari tanda itu bisa dilakukan dengan doa hening, doa novena atau proses discernment. Kita membuka hati kepada kehendak Tuhan dan nanti seperti ada keyakinan yang kuat di dalam hati tentang apa yang hendak kita lakukan.

“Serahkanlah dirimu kepada Tuhan, dan percayalah kepada-Nya, maka Tuhan akan bertindak” (Mz 37:5). 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC 

 

A Note From Chaplain

Aku Percaya 

Para saudara, kita bersaudara karena kita diikat oleh hal yang sama, kita sama-sama percaya akan Allah. Dalam artikel kali ini mari kita merenungkan kepercayaan kita.

Allah yang Menyapa

Kita percaya kepada Tuhan, karena dia memanggil kita. Allah yang telah memanggil dan kita terlebih dahulu. Allah menyapa kita dengan berbagai cara yang membuat kita mengarahkan diri kepada-Nya. Allah menyapa dan menyingkapkan diri dengan berbagai macam cara. Saya menyebut beberapa di antaranya. Lewat tanda-tanda alam. Tedy, satu hari, mengungkapkan keheranannya. “Dari kecil saya makan ikan cakalang hampir setiap hari. Sekarang saya sudah umur 40 tahun, dan ikan cakalang tidak menjadi habis. Siapa yang mengatur lautan hingga seperti ini?” Rasa kagum seperti ini mengarahkan kita kepada Tuhan. Allah juga menyapa kita lewat orang-orang lain, misalnya dari orangtua kita yang mengantar kita kepada doa-doa pribadi. Teman dan sahabat kita yang menceritakan Yesus dan mengundang kita berdoa. Dan yang lain, lewat Kitab Suci. Lewat Kitab Suci kita akan mengetahui Sabda Tuhan yang mengundang kita untuk mendekat kepada-Nya.

Iman adalah Jawaban Kita 

Terhadap Allah yang mengundang kita, kita menanggapi. Tanggapan kita itu adalah kepercayaan atau iman kita. Iman adalah sambutan manusia terhadap pernyataan diri Allah. Beriman berarti ktia membuka hati kepada Allah, dan kita menempatkan Allah di dalam pusat kehidupan kita. Ketika kita beriman, kita tidak lagi sendirian tetapi hidup bersama dengan Allah, mendengarkan bisikan kehendakkNya.

Menghidupi Iman

Minggu lalu saya menghadiri gathering dengan para babtisan baru dan para guru-guru agama di Komunitas Indonesia di Sydney. Saya diminta untuk sedikit berbicara, apa yang harus mereka lakukan setelah babtisan. Ya, setelah beriman kita harus melakukan apa? Secara tradisional setelah dipermandikan kita melakukan tiga hal ini:, lex orandi, lex credendi, lex vivendi.

Lex Credendi. Menjadi katholik bukan sekedar sebuah identitas. Kita harus menghidupi iman kita. Iman kita jadikan pemandu bagi hidup kita. Lex Orandi. Tanda bahwa kita beriman adalah kita berdoa. Berdoa dalam arti kita ikut serta secar aktif di dalam Ibadat bersama seperti Ekaristi hari Minggu, dan doa-doa pribadi. Namun lebih dari itu, dia selalu menghayati akan kehadiran Allah. Allah hadir terus menerus di dalam hidup kita. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung Aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu atasku (Mz 139:1-2). Lex Vivendi. Iman harus dinampakkan dalam perbuatan (Bdk. Yakobus 2:14-26). Iman dan doa kita harus nampak di dalam perbuatan kita yang baik.Maka sebagai orang beriman kita harus menghdiupi ajaran-ajaran moral Katholik. Secara ringkas, Sebagaimana orang beriman, demikianlah dia akan berdoa dan beribadat dan hidup seturut imannya akan Allah. 

Tantangan Iman 

Sepanjang segala zaman, iman akan selalu mendapatkan tantangan dalam berbagai bentuk. Tantangan itu tentu dapat menggoyahkan hidup beriman kita. Namun hendaknya selalu disadari iman memang selalu dalam pencarian, pertanyaan dan pergumulan dengan Allah. “Äku percaya. Tolonglah aku yang kurang percaya ” (Mrk 9:24). 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto msc

 

Last SPJ Indonesian Mass 2019

  • Posts

This Saturday will be our last Indonesian mass at SPJ of the year. We have a special Christmas performance from our children liturgy kids, P3G and amazing prizes to be won! Let’s celebrate advent together before the year ends.

A Note From Chaplain

MASA ADVEN

Para saudara, tidak terasa, kita sudah memasuki masa Adven……

Adven berasal dari latin, adventus yang berarti kedatangan. Pada  masa adven ini kita menantikan datangnya Tuhan sang Mesias. Kedatangan itu bukan hanya kelahiran-Nya di kandang Betlehem, tetapi juga kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, yang datang sebagai hakim untuk segala bangsa. 

Itulah sebabnya Bunda Gereja mengajarkan, selain sikap gembira dalam menyambutnya, juga perlu membangun sikap tobat dalam memasuki masa Adven. 

Sikap yang dianjurkan adalah sikap berjaga-jaga. (Mat 22:44). Tetapi apakah maksudnya berjaga-jaga? Apakah kita tidak berbuat apa-apa? Sikap berjaga-jaga bisa dipadankan dengan seorang istri yang menunggu suaminya yang akan datang dari tempat yang jauh. Berjaga-jaga itu dilandasi oleh sikap cinta dan pengharapan akan datangnya sang kekasih. Tetapi  si istri tentu tidak diam saja. Dia akan membersihkan rumah, merapikan rumah, menyiapkan makanan sehingga saat suami datang, suaminya mendapatkan rumah yang bersih dan indah. Ketika si istri bekerja menjaga agar rumah tetap bersih, hatinya selalu diliputi dengan cinta dan pengharapan.

Sikap berjaga-jaga bukanlah sikap sedih dan murung. Tetapi memiliki tiga suasana ini. Satu: Membuka hati.  Kita senantiasa menyediakan ruang kosong untuk Tuhan di dalam hati kita lewat sikap terbuka. Kita membiarkan diri kita untuk kagum atas perbuatan dan karya Tuhan. Dua: Berdoa terus menerus:  artinya dalam setiap apa yang kita lakukan kita senantiasa menjalin relasi dengan Tuhan. Dan, tiga, discerment atau membeda-bedakan. Kita menjaga hati dan pikiran kita dengan memilih apa yang kita pikirkan dan kerjakan. Jangan hati kita dipandu oleh sikap-sikao kegelapan: pesta pora, kemabukan, percabulan, perselisiihan dan iri hati. Namun mendengarkan bisikan-bisikan Tuhan dalam hati kita atau lewat mendengarkan sabda Tuhan.

Secara ringkas: Masa Adven adalah  masa untuk mempersiapkan datangnya Tuhan Yesus. Warna adven adalah pengharapan. Walaupun tidak setegas masa Prapaskah, tetapi Adven juga menjadi masa pertobatan. Maka di tengah menyambut meriahnya perayaan Natal, kita perlu mencari waktu-waktu tenang, masuk ke dalam diri dan masuk ke kedalaman diri untuk memaknai adven lewat doa pribadi, penyangkalan diri, kerja dan kemurahan hati kepada kaum miskin.

Semoga masa adven ini menjadi masa yang penuh makna untuk menyambut Tuhan. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC 

Pengumuman Perkawinan

Christopher Devi Arianto (Catholic) dengan Catherine Yenni Lo (Catholic). Pontianak (3). 

 

Play, Pray & Praise God (P3G) Nov 2019

𝐄𝐕𝐎𝐋𝐕𝐄
[e•volve | /ɪˈvɒlv/]
(v.) to develop gradually, or to cause something or someone to develop gradually

Let’s evolve together! Develop our faith and grow with Him through scripture, service, prayer, and WORSHIP!

CIC SPJ presents: mini PRAISE & WORSHIP NIGHT!
Come to our very first praise & worship night session next Thursday 28 November 2019!
From 7-8pm.
Enter from Sussex street.

Let’s Level Up! Let’s EVOLVE!

Venue: SPJ Hall
Contact:Harry Liong (0425918925)

A Note From Chaplain

BENARKAH ORANG KATHOLIK MENYEMBAH WAFER?

Pastor, teman saya bertanya mengapa kamu menyembah wafer dalam Ibadat? Kenapa harus memakai perantaraan satu benda tertentu sebagai simbol dari Tuhan yang disembah? Bagaimana saya harus menjawab?

Dalam perayaan Ekaristi, hosti, setelah dikonsekrasi tidak lagi semata-mata hosti atau wafer. Dia benar-benar Tubuh dan Darah Kristus. Maka kita menyembah Pribadi Yesus dan bukan wafer. Hosti juga bukan hanya simbol dari Tuhan Yesus tetapi sungguh-sungguh Yesus yang hadir. Dalam Kitab Suci, Yesus menegaskan bahwa “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku , ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. m (Yoh 6:55-56). 

Tuhan Yesus menyatakan secara harafiah, dan Dia menyatakan dengan sangat tegas hingga para pengikutnya tidak bisa menerimanya dan meninggalkannya  (Yoh 6:66).

Rasul Paulus menyatakan (1 Cor 11:27 dan 1 Cor 10:16) dan menulis bahwa barangsiapa menerima komuni dalam keadaan tidak pantas. “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum  cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” Penegasan ini berarti Paulus mengerti bahwa roti benar-benar pribadi Yesus.

Proses perubahan dari roti menjadi tubuh Tuhan, itu disebut transubstaio atau transubstantsi. Itu berarti roti dan aggur yang digunakan dalam Ekaristi, setelah dikonsekrir dalam Doa Syukur Agung, terjadi perubahan, bukan hanya simbol atau tanda tetapi juga adalah tubuh dan darah Yesus yang sesungguhnya. Substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan DarahNya, namun yang dicerna oleh panca Indra tidak berubah. 

Santo Thomas Aquinas menggubah lagu yang sangat bagus:

Aku sembah sujud di hadapan-Mu
Tuhan yang tersamar hadir di sini
Hanya rupa roti tertampak kini
Namun aku yakin akan sabda-Mu.
Panca inderaku tak menangkapnya
Namun aku yakin akan sabdaMu
Sebab hanya Sabda Allah Putra
Kebenaran Mutlak tak tersangkalkan

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

Pengumuman Perkawinan

  1. Alexander Billy Saputra (Catholic) dengan Julystien Lies Alexandra (Catholic). Surabaya. (3).
  2. Christopher Devi Arianto (Catholic) dengan Catherine Yenni Lo (Catholic). Pontianak (2). 

 

A Note From Chaplain

Berkanjang Sampai Akhir Zaman 

HARI MINGGUBIASA XXXIII
Mal 4:1-2a
2 Tes 3:7-12
Luk 21:5-19

Beberapa waktu lalu, Film dengan judul 2012 –yang konon kabarnya berbicara tentang hari kiamat, mendapat perhatian sangat besar dari masyarakat. Pada hari-hari pertama diputar, gedung-gedung bioskop selalu penuh. Walau sebenarnya film itu sendiri tidak bicara tentang hari kiamat, tetapi lebih pada bencana alam yang melanda seluruh dunia. Pembicaraan tentang akhir zaman selalu menarik perhatian. Ramalan-ramalan tentang akhir zaman selalu menarik perhatian manusia. Hari Tuhan bisa bersifat mondial, artiya tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa lolos darinya. Tetapi  hari Tuhan bisa sangat personal. Ketika seseorang dipanggil Tuhan, Hari Tuhan sudah datang atasnya.

Bacaan Injil, juga bicara tentang akhir zaman. Runtuhnya Bait Allah (Luk 21:5-9) melambangkan hari Tuhan pada akhir zaman. Namun sebelum hari akhir itu datang masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Akan banyak yang akan mengaku sebagai Kristus: sebagai penyelamat. “Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan mengatakan akulah dia…” (Luk 21:8). Ayat ini bisa dimengerti di dalam dunia sekarang ini, ada banyak hal-hal yang dianggap seperti Kristus yang menyelamatkan, padahal bukan. Misalnya, orang yang berpikir bahwa uang adalah penyelamat. Maka banyak orang bertingkah laku kurang bermoral dan kurang bersusila hanya untuk mendapatkan uang. Contoh bisa ditemukan dengan mudah di dalam peristiwa-peristiwa hidup harian. Misalnya perampokan, jual-beli perempuan, penipuan dan tentu yang sangat menggelisahkan: korupsi. Orang menghalalkan segala cara karena tanpa sadar berpikir bahwa uang adalah Kristus atau penyelamat. Padahal sama sekali tidak sama. Dan Tuhan tidak suka disamakan dengan yang bukan Dia.

Rupanya sebelum hari Tuhan itu datang, akan datang prahara yang mengajak kita untuk memilah-milah dan memilih mana Penyelamat yang sejati.  Menghadapi itu, Tuhan mengatakan, “Waspadalah” (ayat 8). Waspada kepada apapun yang mengaku diri sebagai penyelamat. Maka kita perlu untuk memiliki sikap memilah-milah, membeda-bedakan: mana yang adalah Tuhan Penyelamat sejati, dan mana yang tuhan palsu dan pembawa kebinasaan. Dan kita harus memberi kesaksian, bahwa kita adalah masih bertaut kepada Tuhan yang benar.

Namun bagaimana caranya? Bagaimana kita berstrategi untuk menghadapi akhir zaman itu? 

Kita adalah Gereja. Dan Gereja katolik lewat tradisinya mengajarkan praktek-praktek hidup yang membawa kepada keselamatan. Salah satunya adalah meneliti batin sebelum kita tidur. Meneliti batin, itu tidak sama dengan meneliti dosa, walaupun tidak bertentangan. Meneliti batin lebih menjawab pertanyaan: dalam langkah laku sehari ini, saya ini melaksanakan kehendak Tuhan ataukah  tuhan palsu yang saya ikuti. Kemudian tindakan-tindakan kita periksa satu persatu. Dan kita akan menemukan bahwa bahwa sering perbuatan yang kita anggap baik, seringkali berujung kepada cinta diri semata. Maka kita perlu memurnikan diri. Meneliti batin juga membuat kita selalu memberi ruang dalam hati untuk Tuhan. Kita biarkan Tuhan hadir dan tinggal dalam diri kita.

Yang lain adalah perbuatan baik. Kita perlu bersaksi bahwa kita ini milik Tuhan. Bukti paling konkrit bahwa kita milik Tuhan adalah jika kita melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan. Dan seringkali dalam pengalaman harian, melaksanakan ajaran Tuhan itu tidak selalu mudah. Namun kita bisa, dan lihat: kita sementara melakukannya. Minggu ini kita mengumpulkan baju-baju bekas dan uang untuk kita sumbangkan ke panti-panti asuhan di pedalaman Indonesia. Kita juga terlibat di dalam pembinaan calon imam MSC. Di CIC Cambeltown kita membantu pastor-pastor diosesan yang tua dengan kolekte kedua. Kelompok-kelompok Bina Iman juga memberikan sumbangan-sumbangan kepada yang membutuhkan. Dan para umat yang menyumbangkan waktu untuk pelayanan sesama, misalnya beberapa waktu lalu FKM membuat video tentang tahap-tahap kehidupan berkeluarga. 

Beerbuat baik, kadang  menghadapi tantangan yang lebih besar. Memaafkan orang yang mencederai perasaan kita, menolong orang yang tidak tahu berterimakasih, berderma dengan uang yang sebenarnya masih kita butuhkan. Namun Jika kita setia melakukannya, Tuhan akan memberikan hikmat (ayat 18). Sehingga kita akan tetap mempertahanakan iman sampai akhir sehingga kita akan memperoleh hidup yang kekal.  

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

Pengumuman Perkawinan

  1. Nicholas Anggoro (Katholik) dengan Elizabeth Suryani Taslim (Katholik). OLSH. (3)
  2. Benedictus Alvian Yudhistira (Katholik) dengan Flavia Vicka Kaya Lestari. Pademangan, Jakarta. (3)
  3. Stephanus Leonardi Baratasidha (Catholic) dengan Shenny (Kristen GBI). Thomas Rasul, Jakarta. (3)
  4. Christian Edwin Valerie (Catholic) dengan Yossi (Khonghucu). Cibinong, Bogor. (3)
  5. Alexander Billy Saputra (Catholic) dengan Julystien Lies Alexandra. Surabaya. (2).
  6. Christopher Devi Arianto (Catholic) dengan Catherine Yenni Lo (Catholic). Pontianak (1). 

TERIMAKASIH DARI TAREKAT MSC

Tarekat MSC Provinsi Indonesia mengucapkan terimakasih yang besar kepada umat CIC Sydney atas keikut-sertaan dalam pembiayaan pembinaan calon-calon Imam MSC. Dari CIC Night 2019, sebagian dana Natal 2018 dan sumbangan-sumbangan umat, sudah terkumpul, sampai 30 Oktober 2019  A$ 21.080,23 dan US $ 1000. Ungkapan terimakasih kami ungkapkan dengan senantiasa mendoakan para penderma Tarekat, di komunitas-komunitas bina, provinsialat dan komunitas para pastor sepuh. Sekarang ini MSC Indonesia memiliki 125 calon imam dan bruder yang sementara dalam pembinaan. Pembinaan MSC memakan waktu 10-12 tahun dan dengan proses seleksi sangat ketat setiap tahunnya. MSC Indonesia selain bekerja di Indonesia juga memiliki anggota yang bekerja di Australia, United States, Belanda, Ecuador, Filipina, Italy, Jepang, marshal Island, Perancis, Vietnam, Curitiba dan Cuba. 

 

Play, Pray & Praise God (P3G) Nov 2019

What is the one thing you cannot buy with money? You have it, I have it, we all have the same amount – but have you used yours wisely?
Come join us this Saturday’s P3G (Play, Pray, and Praise God) after mass to find out how to use your time according to God’s plan!

This time the topic is “The ONE thing you can’t buy”, brought to you by Marshiella Halim.
Join us this Saturday at 4.15pm (after the SPJ mass), so might as well come to our 2.15 pm Indonesian mass! 🙏🏻😇
See you there!

A Note from Chaplain

PURGATORY

Apa itu?

Purgatory berasal dari kata Bahasa latin, purgatorium, yang berarti api penyucian. Kata ini menunjuk kepada tempat atau proses bagai orang yang sudah meninggal untuk menjalani penyucian atau pemurnian. Gereja Katolik mengajarkan hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

1) Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.

3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Apakah Purgatory ada di dalam Kitab Suci?

Banyak orang yang tidak setuju dengan adanya purgatory karena tidak ada  di dalam Kitab Suci. Memang benar bahwa kata purgatory tidak ditemukan di dalam Kitab Suci, sebagaimana kita juga tidak menemukan kata Trinitas atau Inkarnasi. Namun refleksi iman tentang Purgatory bersumber dan berdasar kepada Kitab Suci. 

Ingrid Listiati, seorang theolog awam  di Katolisitas.org, menulis, antara lain, saya kutip:

  1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus, dan kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16). Sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri, bahwa Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.
  2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

Keadilan Tuhan

Hal lain yang perlu kita pertimbangkan adalah Allah itu selain Mahamurah juga Maha Adil. Maka di dalam pengalaman kita, selalu saja ada konsekuensi yang ditanggung oleh manusia, jika ia berdosa terhadap Allah, meskipun Allah telah memberikan pengampunan. Kita melihat hal demikian, misalnya, pada Adam dan Hawa, setelah diampuni dosanya, diusir dari taman Eden (Kej 3:23-24). Raja Daud yang diampuni oleh Allah atas dosanya berzinah dengan Betsheba dan membunuh Uria, tetap dihukum oleh Tuhan dengan kematian anaknya (lihat 2 Sam 12:13-14). Nabi Musa dan Harun yang berdosa karena tidak percaya dan tidak menghormati Tuhan di hadapan umat Israel akhirnya tidak dapat masuk ke tanah terjanji (Bil 20:12). 

Dalam pengalaman hidup, kita juga menemukan yang serupa. Misalnya ketika kita sudah bersalah kepada orang lain, walauapun kita sudah minta maaf dan sudah diberi maaf, tetapi membutuhkan proses pemuliahan. Demikian juga ada konsekwensi dari dosa-dosa yang kita lakukan saat kita masih hidup di dunia. 

 

Apakah Para kudus Mengajarkannya? 

Para Kudus dari abad-abad awal kekristenan sudah mengajarkannya. Sebagai contoh, St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut. 

 

Konsekwensi Imannya

Mari kita bawa saudara-saudara kita yang sudah meninggal dalam doa-doa kita terutama pada bulan November. Salah satu bentuk doa yang dianjurkan adalah memintakan ujud misa. 

 

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC  

Pengumuman Perkawinan

Nama pasangan dan tempat pernikahan. 

  1. Jesse Christian (Kristen) dengan Theresia Alice Ayu Adiningrum (Katholik). OLR. (2)
  2. Nicholas Anggoro (Katholik) dengan Elizabeth Suryani Taslim (Katholik). OLSH. (2)
  3. Benedictus Alvian Yudhistira (Katholik) dengan Flavia Vicka Kaya Lestari. Pademangan, Jakarta. (2)
  4. Stephanus Leonardi Baratasidha (Catholic) dengan Shenny (Kristen GBI). Thomas Rasul, Jakarta. (2)
  5. Christian Edwin Valerie (Catholic) dengan Yossi (Khonghucu). Cibinong, Bogor. (2)
  6. Alexander Billy Saputra (Catholic) dengan Julystien Lies Alexandra. Surabaya. (1).

Jika ada yang mengetahui adanya halangan menurut Hukum Gereja Katholik, mohon memberitahukan kepada Chaplain CIC. 

Dana Natal 

Sisa Dana Natal 2019, dipakai sebagai berikut. 50% disumbangkan, dan tahun ini disumbangkan ke pembinaan para calon-calon imam MSC, di mana CIC juga dilayani oleh imam-imam MSC. 50% dibagi ke masing-masing komunitas CIC: CIC Enmore-Newtown, CIC Kensington dan CIC SPJ.