A Note From Chaplain

LATIHAN ROHANI DI MASA PRAPASKAH

Satu hari saya melihat seorang bucher yang sementara bekerja. Dia bekerja mempergunakan pisau, yang tidak besar tetapi tajam sekali. Dia bisa memotong daging dengan sangat rapih. Dia bekerja dengan sangat cepat. Saya tidak melihat butcher tadi mengasah pisau, tetapi saya yakin dia pasti rajin mengasah pisau setajam itu sehingga bisa bekerja dengan cepat dan rapih.

Pisau harus diasah. Demikian juga naluri rohani kita juga harus diasah supaya menjadi tajam. Kita masuk dalam masa prapaskah. Gereja  memberi waktu kepada kita untuk “mengasah pisau” kita. Dan masa itu dibuka dengan dengan penandaan abu di dahi kita.

Penandaan abu mengingatkan kita bahwa tubuh jasmani kita suatu saat akan hancur dan hilang. Namun roh kita tetap abadi. Maka kita harus merenungkan pentingnya kehidupan rohani. Dan kemudian ditambahkan dengan frase, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Bertobat berarti mengarahkan dan hidup yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan percaya kepada Injil berarti membuka diri kepada rencana keselamatan Allah yang diberikan kepada kita, dan kita menjalani sikap-sikap Kerajaan Allah dengan mengikuti ajaran-ajaran Tuhan Yesus.

Kita juga diaajak untuk menyadari dosa dan kelemahan kita. Bahkan lebih dari itu kita diajak menyadari bahwa dosa kita ini berdimensi sosial juga. Misalnya di Jakarta pernah ada kejadiah kecil tetapi dampaknya panjang. Di salah satu misa pagi, ada umat yang membawa tas plastik warna hitam. Selesai misa dia lupa membawa tas itu dan tertinggal di bawah bangku gereja. Ketika diketahui, regu polisi didatangkan. Walaupaun segera diketahui bahwa tas itu sama sekali bukan bom, tetapi berita bahwa di gereja ada bom sudah terlanjur tersebar dari mulut ke mulut dan mengakibatkan jumlah orang yang ke Gereja berkurang. Kelupaan tas sebenarnya dosa kecil, atau oblivio (kelalaian), tetapi lihat, dampaknya ternyata besar sekali.

Maka Gereja mengajak kita untuk melakukan laku silih untuk memohon ampun atas dosa dan kelemahan kita, namun juga untuk melatih diri untuk menghidupi laku hidup yang baik sebagai orang kristiani. Yang ditunjukkan oleh Gereja sebagai berikut: (lihat surat masa prapaskah dari Bishop Anthony Fisher):

  1. Pantang (abstinence) dari makan daging dan berpuasa yang harus dilaksanakan pada hari Rabu abu dan Jumat Agung. Semua yang sudah berusia genap 18 tahun dan belum mencapai 60 tahun wajib berpuasa. Semua yang sudah genap berusia 14 tahun wajib untuk melakukan pantang.
  2. Pada semua Jumat yang lain termasuk hari-hari Jumat dalam masa Prapaskah, hukum untuk melakukan silih dipenuhi jika melakukan satu dari hal berikut:
    1. Doa-misalnya menghadiri misa, doa dalam keluarga, visitasi (untuk berdoa) ke kapel atau Gereja, membaca Kitab Suci, berdoa jalan salib, doa rosario.
    2. Penyangkalan diri (self-denial) – misalnya tidak mengkonsumsi daging, makanan manis atau dessert, menghindari hiburan sehingga waktu lebih banyak untuk keluarga, mengurangi makanan dan minuman sehingga bisa memberi kepada orang-orang senegaranya, membatasi sosial media, smartphone atau televisi.
    3. Membantu sesama-misalnya dengan memberi perhatikan khusus kepada orang miskin, sakit, orangtua, kesepian atau yang berbeban berat. 
    4. Untuk di CIC, kita juga menyediakan amplop aksi puasa, yang jika sudah terkumpul akan kita masukkan ke kas sosial sehigga saat ada yang membutuhkan, terutama yang di Indonesia,  kita bisa membantu. Misalnya kita pernah membantu bush fire atau korban pemboman Gereja.

Selain itu umat juga wajib untuk menyambut komuni setidaknya satu kali dalam setahun antara Rabu Abu sampai hari Raya Tritungggal Mahakudus, 7 June 2020. Semua orang beriman wajib untuk mengakukan dosa berat minimal setahun sekali.

Selamat memasuki masa pertobatan, semoga latihan rohani kita membuahkan banyak rahmat.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

Coronavirus

Kita tahu bahwa corona virus telah menimbulkan banyak keresahan. Dan virus bisa menyebar dengan media bermacam-macam. Kontak dengan orang lain yang mengidap corona, dan lain-lain. Kekawatiran itu ada, maka kita perlu memperhatikan secara serius dan bersikap hati-hati. 

Sampai saat ini belum ada surat dari Keuskupan yang mengatur hal ini. Namun beberapa hal ini bisa dipertimbangkan. a). Untuk sementara, komuni Jumat Pertama yang menggunakan dua rupa (roti dan anggur) akan menjadi satu, hosti saja tanpa anggur. b). Komuni dianjurkan dengan tangan (bukan dengan lidah). Tetapi ini hanya anjuran. c). Saat Jumat Agung nanti, hanya pastor yang mencium salib. Yang lain cukup menyentuh dengan tangan. d). Hal lain diserahkan kepada masing-masing pribadi seperti saat salam damai mau berjabat tangan atau cukup menundukkan kepala, saat Bapa Kami akan bergandengan tangan atau tidak. Yang penting jika teman sebelahmu menolak diajak jabat tangan saat salam damai atau menolak bergandengan tangan. kita tidak usah merasa tersinggung.