A Note From Chaplain

BELAJAR DARI UMAT (4)

Sebagai seorang imam yang sudah 20 tahun bekerja, saya banyak belajar dari umat yang saya layani. Mereka menjadi guru kehidupan bagi saya. Mereka memberi pemahaman tentang hidup, yang tidak begitu saja jelas dari bangku kuliah. Saya mencoba untuk menuliskan “kebijaksanaan hidup”  apa saja yang saya pelajari dari umat yang pernah atau sementara saya layani.

 

KESULITAN BESAR

Umat berikut ini tidak menunjuk kepada pribadi tertentu tetapi rekonstruksi dari pengalaman banyak umat yang saya temui.

Bahagia saya berteman dengan -sebut saja namanya Harjadi. Sebenarnya dia kurang beruntung karena orangtuanya hanya menjadi Penjaga Sekolah: pesuruh, merawat kebersihan sekolah. Gaji orangtuanya sangatlah kecil. Tidaklah cukup untuk menyekolahkan keenam anaknya. 

Harjadi berjualan es. Di awal tahun 80-an, berjualan es berarti mengambil termos es dari juragan es, dan kemudian berjalan berkeliling kampung menjajakan es. Dia harus mengembalikan hasil jualan kepada juragan dengan sedikit mendapatkan upah dari es yang terjual. 

Naas hari itu. Saat berjalan, termos esnya jatuh dan kacanya pecah berkeping-keping. Dia sangat takut: takut disuruh mengganti termos dan pastilah dia tidak bisa memberikan uang ganti termos es itu. Dia stress, takut, menangis. Namun dia menghadapinya. Dan dia berhasil mengatasi masalah itu.

Harjadi, walau orangtuanya kurang mampu bisa bersekolah di ITB. Selepas kerja dia bekerja di sebuah pabrik jamur yang dipasarkan ke USA. USA sangat demanding dalam kwalitas: misalnya kadar air dan masalah tehnis lainnya. Pernah dia didemo oleh hampir 2000 karyawannya. Namun dia bisa menghadapi dengan tenang. Dia berhasil membantu biaya pendidikan adik-adiknya. Dari keenam adik-adiknya, ada yang  menjadi wartawan, manager, dosen dan pastor. 

Pernah saya bertanya kepadanya: mengapa anda bisa menghadapi berbagai masalah dengan tenang. Dia menjawab: saya pernah mengalami kesulitan yang sangat besar yaitu saat kecil, termos es yang pecah berantakan. Saya ketakutan, tetapi ternyata bisa diselesaikan. Sejak saat itu tidak pernah ada kesulitan yang lebih besar dari termos es yang pecah. Saya tahu saya mampu dan seperti ada tangan yang tidak kelihatan yang selalu menuntun saya. 

Para saudara, pernahkan anda mengalami kesulitan yang sangat besar? Kesulitan yang sangat besar itu sering menjadi guru kehidupan bagi kita. Kita menjadi tahu dan belajar. 

Dalam pembinaan calon imam, ada program yang namanya peregrinasi atau pengembaraan. Mereka selama waktu tertentu, misalnya 10 hari, diminta untuk berjalan tanpa bekal. Dan mereka akan mengalami hal-hal sulit, namun akhirnya mereka akan tahu bahwa tangan Tuhan senantiasa menyertai mereka. 

Kitapun sering diuji oleh Tuhan. Ujian-ujian kehidupan sering kita perlukan supaya kita menjadi lebih tangguh. Tuhan seringkali juga menguji diri kita supaya kita kuat. 

Pepatah mengatakan, “They have to be tested to draw out the best of them’’. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC