A Note From Chaplain

RETRET

Para saudara, saat membaca artikel ini, saya akan sedang menjalani retret tahunan. Seorang pastor diiwajibkan oleh Kitab Hukum Kanonik untuk mengambil retret sekurangnya 8 hari dalam setahun.  Saya mengambil retret pribadi terbimbing, yang didampingi oleh Pastor senior Rm. Tarsisius Wignyosoemarto. Dalam tulisan ini saya ingin berbagai pengetahuan tentang apa itu retret.

Adapun artinya 

Retret berarti mengundurkan diri, menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari atau menyepi. Dengan retret, seseorang diharapkan bisa mengakrabi diri sendiri, banyak waktu untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, menata diri berdasarkan jati dirinya. Dia juga dipandu untuk mengenali kembali apa yang menjadi tujuan sejati dari hidupnya.

Jenis-jenis Retret

Dalam Gereja Katholik ada berbagai jenis retret:

 

  • Seminar Retret/Preached Retret

 

Retret ini memiliki peserta yang sangat besar. Bisa sampai lebih dari 100 orang. Retret ini tidak dilengkapi dengan pembimbing untuk peserta karena jumlahnya yang besar. Refleksi-refleksi disampaikan oleh pembimbing berdasarkan pengolahan dirinya. Biasanya dibantu juga untuk pengakuan dosa. Retret CIC yang setiap tahun diadakan memiliki jenis ini.

 

  • Retret Setengah terbimbing

 

Retret ini memiliki peserta yang masih besar, tetapi tidak sebesar seminar retret. Umumnya mereka memiliki topik yang sudah ditentukan, misalnya persiapan kaul, persiapan kaul kekal, mencari pasangan hidup, retret luka batin dan lain-lain atau retret tahunan para imam dan biarawan-biarawati. Para peserta diminta untuk silentium magnum (menjaga ketenangan dengan tidak berbicara). Bahkan kadang tidak diperbolehkan memakai handphone. 

Bahan-bahan disampaiakn secara sistematis oleh pembimbing dan para peserta merenungkan bahan-bahan secara sistematis. Umumnya mereka merenungkan bahan-bahan 4 kali sehari masing-masing 1 jam, di kapel atau dikebun. Dan kemudian membuat catatan pribadi. Mereka diberi fasilitas untuk pengakuan dosa dan bahkan sharing antar peserta. Mereka juga bisa approach pembimbing untuk bimbingan pribadi. 

 

  • Retret Terbimbing Penuh

 

Retret ini pesertanya sangat terbatas, antara 1-5 orang. Mereka dituntut untuk silentium magnum (tidak berbicara sama sekali). Pembimbing yang berpengalaman memberi bahan secara sederhana, misalnya hanya 4 perikope Kitab Suci yang harus mereka renungkan secara pribadi. Mereka mengatur acara sendiri-sendiri. Makan dilakukan secara sendiri-sendiri dengan hening dan sebaiknya menghindari tatap mata antar peserta, supaya tetap fokus kepada Tuhan. Mereka secara pribadi merenung 4 kali dan kadang-kadang 5 kali renungan yang disebut meditasi, konsiderasi atau kontemplasi. Dan sering ada renungan ulangan. Kadang-kadang permenungan dibuat tengah malam atau pagi-pagi, sesuai dengan bahan renungan. 

Yang paling terkenal adalah Latihan Rohani St. Ignatius yang mengambil waktu 30 hari, atau 8 hari dengan dinamika yang sangat khas.

Peserta retret akan bertemu dengan pembimbing kira-kira 50 menit sehari. Dalam pertemuan itu peserta retret mesyeringkan buah-buah permenungan. Pembimbing akan memberi petunjuk tehnis, misalnya cara berdoa yang baik. Terutama jika retretan mengalami desolasi. Pembimbing akan mendengarkan dengan penuh perhatian sambil merenungkan, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki untuk saudaraku ini.” Pembimbing memberikan direksi dan peneguhan. Di akhir bimbingan, pembimbing akan memberikan bahan-bahan untuk direnungkan, misalnya perikop-perikop Kitab Suci. 

 

  • Retret Pribadi terbimbing

 

Retret jenis ini mirip dengan retret terbimbing penuh. Yang membedakan adalah dinamikanya sangat  tergantung dari peserta retret. Dari bimbingan pertama kemudian akan berkembang sesuai dengan bimbingan Roh Kudus. 

Retret saya kali ini memakai bentuk yang keempat. 

Para umat yang saya kasihi, kita saling mendoakan. Doakan saya juga supaya dapat mengolah hidup rohani dengan baik. Mohon maaf kalau waktu-waktu ini sampai retret berakhir, jika anda WA tidak saya balas. Mohon segala sesuatu dikonsultasikan dengan Pst. Alo Lamere atau Koordinator Dewan CIC. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC