A Note From Chaplain

Peneguhan

Menurut ilmu Psikologi, salah satu kebutuhan penting manusia adalah kebutuhan akan peneguhan. Peneguhan akan membuat kita bahagia dengan diri kita dan menyuburkan pertumbuhan dan perkembangan diri. Saya memiliki pengalaman yang sangat manis tentang peneguhan. Waktu saya duduk di bangku  kelas dua Sekolah Dasar, saya adalah murid yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, nilai merah di raport lebih banyak dari pada yang biru. Situasi ini membuat prihatin guru kelasku yang bernama Pak Agustinus. Beliau mengunjungi rumahku dan mengajariku membaca. Wajahnya santai, dan dia mengatakan, “saya tahu kau pasti bisa”. Pendekatan dan kata-katanya membuatku bersemangat. Ketika saya sudah cukup lancar, satu hari saya diminta membaca di depan kelas. Teman-teman mentertawakan saya karena biasanya saya selalu gagal. Kali ini bisa, dan Pak Agustinus tersenyum dan angkat  jempol untuk saya. Saya bangga sekali. Dan sejak saat itu prestasi belajarku meningkat pesat.

Dalam bacaan Injil  (Mrk 9:2-10), dikisahkan bahwa Yesus juga mendapatkan  peneguhan dari Bapa-Nya. Suara “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk:9:7). Peneguhan dari Bapa, membuat Yesus setia dalam mengemban misi penyelamatan dunia lewat sengsara, wafat dan kebangkitan. Kitapun juga membutuhkan peneguhan. Dengan meninggalkan masa kanak-kanak, kebutuhan akan peneguhan masih tetap ada.  Namun peneguhan itu sering bukan dari orang lain, tetapi dari Tuhan sendiri. Ada beda antara pujian dan peneguhan. Pujian membuat kita melambung, peneguhan membuat kita percaya diri. Peneguhan didasarkan kepada upaya keras kita. Dalam bacaan Pertama, dikisahkan bahwa Abraham diteguhkan Allah. Namun peneguhan dengan janji ilahi itu terjadi setelah Abraham dengan perjuangan yang besar dan berat telah hendak mengorbankan putranya, Ishak,  kepada Tuhan. 

Bagaimana kita dapat peneguhan? Kita akan mendapatkan peneguhan setelah kita bekerja sebaik mungkin: bekerja lebih baik dan lebih besar. Pekerjaan yang baik akan mengundang orang untuk memberikan peneguhan. Pun jika luput dari perhatian orang lain, kita mengalami kepuasan yang memberi peneguhan hati  bahwa kita mampu. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC