Chaplain’s Note

A Note from Chaplain

PAULUS, RASUL AGUNG GEREJA (1).

Catatan Awal

Bisakah dibayangkan Kekristenan tanpa Paulus? Tanpa Paulus Kekristenan mungkin tidak akan seluas seperti sekarang ini. Dan bahkan banyak yang berpendapat tanpa Paulus kekristenan hanya akan menjadi salah satu sekte dalam agama Yahudi. Belajar tentang Paulus akan memperkaya iman. Maka pada bulan September 2019, di bulan Kitab Suci, saya membaca buku-buku tentang Paulus dan ingin untuk membagikan catatan untuk anda. Menjadi jelas bahwa saya bukan pengarang namun sekedar penyusun dari bahan bacaan yang saya pelajari. 

Latar Belakang Paulus

Paulus dilahirkan di Tarsus, dari keluarga Yahudi (Filipi 3:5). Tidak diketahui benar kapan dia lahir, tetapi diduga dia lahir pada tahun-tahun pertama tahun Masehi. Keluarganya berbahasa Aram (Kis 21:39)  dan dari keluarga kaya (Kis 22:28). Orangtuanya adalah warga negara Roma. Dia disunat pada hari ke 8 dan diberi nama Saul dan nama Romawi Paulus. 

Saulus bangga akan kota kelahirannya. Dia belajar Bahasa Yunani yang menjadi bahasa di daerahnya dan dia juga belajar filsafat Yunani.

Karier Paulus

Sewaktu masih sangat muda Paulus memutuskan untuk menjadi seorang guru (guru hukum taurat). Paulus kemudian dikirim oleh orangtuanya ke pusat Yahudi pada waktu itu yaitu Yerusalem. Dia menjadi murid Rabi Gamaliel. Rabi Gamaliel adalah putra Rabi Gilel yang memiliki pandangan bahwa orang di luar bangsa Yahudi ada di luar rencana keselamatan Allah. Paulus adalah murid yang sangat cerdas yang sangat membanggakan orangtua, guru dan sahabat-sahabatnya. 

Sewaktu masih muda dia sudah belajar memiliki ketrampilan yaitu membuat tenda, sebab seorang ahli taurat umumnya diminta untuk memiliki keterampilan untuk dapat menafkai dirinya (Kis 18:3). Hal ini sangat membantu Paulus dalam perjalana misinya sehingga dia tidak tergantung kepada siapapun (1 Kor 9:15).

Setelah menyelesaikan pendidikannya, dia kembali ke Tarsus dan menjadi Rabi atau guru agama. Tidak banyak sumber yang menceritakan kegiatan Paulus saat dia menjadi rabi di Tarsus. 

3. Penganiaya Jemaat 

Paulus sudah mendengar tentang gerakan Kristen (kemungkinan waktu itu Namanya Yesus atau jalan, karena kata Kristen baru dipakai beberapa tahun kemudian di Antiokia). Paulus ingin mempertahankan ajaran nenek moyangnya. Maka dia memimpin pasukan untuk menghacurkan kekristenan. Dia setuju bahwa Stefanus dihukum mati dan bahkan ada di sana ketika eksekusi terjadi. “Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota- kota asing.” (Kisah Para Rasul 26:10,11) Bersambung. 

 

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC

A Note from Chaplain

Mengenal Keempat Injil

Matius

Ditulis oleh Matius sekitar tahun 80 M dalam bahasa Yunani. Injil ini ditujukan bagi bangsa Yahudi. Lambang dari Matius ini  adalah manusia bersayap (malaikat) karena ia mengawali Injilnya dengan memperkenalkan Yesus sebagai utusan Allah; pembawa kabar gembira.

Markus

Injil ini ditulis oleh Yohanes Markus, teman perjalanan Paulus dan Barnabas. Ia juga pembantu Petrus di Roma. Injil ini ditulis sekitar tahun 65 – 70 M. Lambang dari penginjil ini ialah singa, karena ia mengawali Injil dengan “suara yang berseru-seru di padang gurun” (bdk Mrk 1:3). Tak hanya itu, ada dugaan menyebutkan bahwa Injil tersebut untuk menguatkan hati umat Kristen yang dianiaya oleh Nero.

Lukas

Ditulis oleh Lukas, ia seorang tabib dari Antiokia (Siria), teman dan pengikut Paulus. Ditulis sekitar tahun 85 M di Yunani. Oleh karena itu Yesus yang digambarkan dalam injil Lukas adalah sosok yang lembut dan penuh kasih. Lukas menekankan bahwa Yesus adalah Sang Penyelamat orang-orang miskin, sakit dan berdosa. Injilnya ditujukan bagi orang-orang Yunani. Ia juga menulis Kisah Para Rasul, yaitu kabar gembira bagi orang Kristen bukan Yahudi. Lambang dari penginjil ini adalah lembu, karena ia mengawalinya dengan Zakharia yang tidak bisa bicara, ia menjadi bisu bagaikan lembu.

Yohanes

Injil ini ditulis oleh kelompok Rasul Yohanes sekitar tahun 100 M di Efesus (Patmos). Injil ini sungguh berbeda dari ketiga Injil Sinoptik. Yohanes memberi kesaksian ke-Ilahi-an Yesus Kristus, Tuhan yang dimuliakan di sisi Allah Bapa. Juga lebih merupakan refleksi iman yang sudah banyak dipengaruhi oleh teologi. Injil Yohanes sangat berlainan dengan ketiga injil sinoptik. Lambang penginjil ini ialah burung Rajawali. Hal ini dikarenakan dalam Injilnya Yohanes mau memperkenalkan ke-Allahan Yesus yang penuh kekuasaan dan  kebijaksanaan. Ada juga yang mengatakan simbo rajawali karena Yohanes menulis “from above”. 

Keempat Injil yang sekarang ini adalah hasil seleksi dari Konsili Nicea.

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC

A Note from Chaplain

Rahasia Pengakuan Dosa (2)

Bisakah Government memaksa seorang Imam untuk membocorkan rahasia pengakuan?

Negara bisa memaksa, karena negara memiliki otoritas yang berbeda dengan otoritas Gereja. Tetapi Gereja menegaskan untuk menoal dan tetap akan menjaga rahasia pengakuan. Alasannya karena Peniten (orang yang mengaku dosa) memilik hak akan privacy. Peniten berhak untuk tidak dikenali. Demikian juga Bapa pengakuan juga memiliki hak akan privacy untuk mendengarkan pengakuan dosa. Hal ini juga telah diatur dalam Hukum Gereja (Codex Iuris Canonici, CIC).

Tempat Pengakuan yang ideal

Di Indonesia, dengan alasan agar banyak orang mengaku dosa, ada praktek pengakuan dosa dibuat di rumah-rumah. Apakah hal itu tepat?

Tempat pengakuan yang ideal adalah tempat yang bisa menjaga privacy baik Confessor maupun peniten. Maka dalam hukum Gereja (CIC 964 § 2) dinyatakan perlunya penyekat (grille) sehingga baik peniten maupun confessor tetap anonimous. Tentu bisa dimengerti jika keadaan tidak memungkinkan pengakuan dosa diadakan di rumah, namun rahasia dari peniten haruslah dijaga, maka tetap dibuat penyekat. Namun tempat yang paling tepat tetaplah gereja atau kapel.

Menghindarkan diri dari Bahaya

Karena ruang pengakuan adalah ruang privat, maka ada bahaya terjadinya penyalahgunaan. Penyalahgunaan itu misalnya membicarakan hal-hal yang sensual. Untuk itu Confessor tidak boleh bertanya hal-hal yang berhubungan dengan identitas peniten atau bertanya detil sekali tentang dosa, terutama yang berhubungan dengan sex. Demikian juga peniten tidak selayaknya menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan dosa sexual secara amat detil.

Berhubungan dengan anak-anak, tidaklah baik membiarkan pastor hanya berdua di ruangan dengan anak-anak. Dan sebaiknya ada orang lain dalam jarak yang aman tanpa mendengarkan pengakuan. Ada upaya-upaya yang baik misalnya ruang pengakuan diberi jendela kaca.

Bagaimana Jika jalannya Pengakuan tidak Baik

Jika ada kejadian di mana peniten melakukan atau mengatakan yang tidak selayaknya, maka Confessor bisa meninggalkan ruang pengakuan tanpa memberi absolusi. Saya tidak pernah membaca petunjuk untuk sebaliknya, tetapi bisa dimengerti juga jika peniten merasa confessor tidak berperilaku selayaknya dia bisa meninggalkan ruang pengakuan.

Bagaimana jika isi pengakuan dosa berhubungan dengan hal-hal yang berbahaya?

Bagaimana jika ada hal-hal yang berbahaya dilakukan di dalam ruang pengakuan? Misalnya orang yang memiliki relasi dengan aksi teroris, atau seorang yang melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak di bawah umur, atau anak-anak yang menjadi korban dari aksi pelecehan? (Saya tidak sementara membocorkan rahasia pengakuan, tetapi mengambil contoh yang mungkin bisa terjadi).

Confessor tetap terikat kepada kewajiban merahasiakan apa yang ia dengarkan dan tidak boleh melaporkan kepada polisi. Tetapi memberi nasihat rohani agar korban atau pelaku melaporkan kepada orang lain yang berwenang, misalnya kepada guru pembimbingnya atau juga kepada polisi. Tetapi bukan confessor yang melaporkannya. Jika kemudian peniten mendatangi confessor lagi di pastoran untuk konsultasi lanjutan, maka dia -dalam forum bimbingan rohani itu , harus meminta peniten untuk kembali menceritakan masalahnya secara lebih detil. Karena confessor tidak diperbohlekan memakai pengetahuan yang dia dapat dari ruang pengakuan.

Semoga lewat tulisan ini, umat CIC semakin rajin di dalam pengakuan dosa dan berniat sungguh untuk hidup semakin suci.

Saudaramu dalam Tuhan
Pst. Petrus Suroto MSC