Chaplain’s Note

A Note From Chaplain

Aku Percaya 

Para saudara, kita bersaudara karena kita diikat oleh hal yang sama, kita sama-sama percaya akan Allah. Dalam artikel kali ini mari kita merenungkan kepercayaan kita.

Allah yang Menyapa

Kita percaya kepada Tuhan, karena dia memanggil kita. Allah yang telah memanggil dan kita terlebih dahulu. Allah menyapa kita dengan berbagai cara yang membuat kita mengarahkan diri kepada-Nya. Allah menyapa dan menyingkapkan diri dengan berbagai macam cara. Saya menyebut beberapa di antaranya. Lewat tanda-tanda alam. Tedy, satu hari, mengungkapkan keheranannya. “Dari kecil saya makan ikan cakalang hampir setiap hari. Sekarang saya sudah umur 40 tahun, dan ikan cakalang tidak menjadi habis. Siapa yang mengatur lautan hingga seperti ini?” Rasa kagum seperti ini mengarahkan kita kepada Tuhan. Allah juga menyapa kita lewat orang-orang lain, misalnya dari orangtua kita yang mengantar kita kepada doa-doa pribadi. Teman dan sahabat kita yang menceritakan Yesus dan mengundang kita berdoa. Dan yang lain, lewat Kitab Suci. Lewat Kitab Suci kita akan mengetahui Sabda Tuhan yang mengundang kita untuk mendekat kepada-Nya.

Iman adalah Jawaban Kita 

Terhadap Allah yang mengundang kita, kita menanggapi. Tanggapan kita itu adalah kepercayaan atau iman kita. Iman adalah sambutan manusia terhadap pernyataan diri Allah. Beriman berarti ktia membuka hati kepada Allah, dan kita menempatkan Allah di dalam pusat kehidupan kita. Ketika kita beriman, kita tidak lagi sendirian tetapi hidup bersama dengan Allah, mendengarkan bisikan kehendakkNya.

Menghidupi Iman

Minggu lalu saya menghadiri gathering dengan para babtisan baru dan para guru-guru agama di Komunitas Indonesia di Sydney. Saya diminta untuk sedikit berbicara, apa yang harus mereka lakukan setelah babtisan. Ya, setelah beriman kita harus melakukan apa? Secara tradisional setelah dipermandikan kita melakukan tiga hal ini:, lex orandi, lex credendi, lex vivendi.

Lex Credendi. Menjadi katholik bukan sekedar sebuah identitas. Kita harus menghidupi iman kita. Iman kita jadikan pemandu bagi hidup kita. Lex Orandi. Tanda bahwa kita beriman adalah kita berdoa. Berdoa dalam arti kita ikut serta secar aktif di dalam Ibadat bersama seperti Ekaristi hari Minggu, dan doa-doa pribadi. Namun lebih dari itu, dia selalu menghayati akan kehadiran Allah. Allah hadir terus menerus di dalam hidup kita. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung Aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu atasku (Mz 139:1-2). Lex Vivendi. Iman harus dinampakkan dalam perbuatan (Bdk. Yakobus 2:14-26). Iman dan doa kita harus nampak di dalam perbuatan kita yang baik.Maka sebagai orang beriman kita harus menghdiupi ajaran-ajaran moral Katholik. Secara ringkas, Sebagaimana orang beriman, demikianlah dia akan berdoa dan beribadat dan hidup seturut imannya akan Allah. 

Tantangan Iman 

Sepanjang segala zaman, iman akan selalu mendapatkan tantangan dalam berbagai bentuk. Tantangan itu tentu dapat menggoyahkan hidup beriman kita. Namun hendaknya selalu disadari iman memang selalu dalam pencarian, pertanyaan dan pergumulan dengan Allah. “Äku percaya. Tolonglah aku yang kurang percaya ” (Mrk 9:24). 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto msc

 

A Note From Chaplain

MASA ADVEN

Para saudara, tidak terasa, kita sudah memasuki masa Adven……

Adven berasal dari latin, adventus yang berarti kedatangan. Pada  masa adven ini kita menantikan datangnya Tuhan sang Mesias. Kedatangan itu bukan hanya kelahiran-Nya di kandang Betlehem, tetapi juga kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, yang datang sebagai hakim untuk segala bangsa. 

Itulah sebabnya Bunda Gereja mengajarkan, selain sikap gembira dalam menyambutnya, juga perlu membangun sikap tobat dalam memasuki masa Adven. 

Sikap yang dianjurkan adalah sikap berjaga-jaga. (Mat 22:44). Tetapi apakah maksudnya berjaga-jaga? Apakah kita tidak berbuat apa-apa? Sikap berjaga-jaga bisa dipadankan dengan seorang istri yang menunggu suaminya yang akan datang dari tempat yang jauh. Berjaga-jaga itu dilandasi oleh sikap cinta dan pengharapan akan datangnya sang kekasih. Tetapi  si istri tentu tidak diam saja. Dia akan membersihkan rumah, merapikan rumah, menyiapkan makanan sehingga saat suami datang, suaminya mendapatkan rumah yang bersih dan indah. Ketika si istri bekerja menjaga agar rumah tetap bersih, hatinya selalu diliputi dengan cinta dan pengharapan.

Sikap berjaga-jaga bukanlah sikap sedih dan murung. Tetapi memiliki tiga suasana ini. Satu: Membuka hati.  Kita senantiasa menyediakan ruang kosong untuk Tuhan di dalam hati kita lewat sikap terbuka. Kita membiarkan diri kita untuk kagum atas perbuatan dan karya Tuhan. Dua: Berdoa terus menerus:  artinya dalam setiap apa yang kita lakukan kita senantiasa menjalin relasi dengan Tuhan. Dan, tiga, discerment atau membeda-bedakan. Kita menjaga hati dan pikiran kita dengan memilih apa yang kita pikirkan dan kerjakan. Jangan hati kita dipandu oleh sikap-sikao kegelapan: pesta pora, kemabukan, percabulan, perselisiihan dan iri hati. Namun mendengarkan bisikan-bisikan Tuhan dalam hati kita atau lewat mendengarkan sabda Tuhan.

Secara ringkas: Masa Adven adalah  masa untuk mempersiapkan datangnya Tuhan Yesus. Warna adven adalah pengharapan. Walaupun tidak setegas masa Prapaskah, tetapi Adven juga menjadi masa pertobatan. Maka di tengah menyambut meriahnya perayaan Natal, kita perlu mencari waktu-waktu tenang, masuk ke dalam diri dan masuk ke kedalaman diri untuk memaknai adven lewat doa pribadi, penyangkalan diri, kerja dan kemurahan hati kepada kaum miskin.

Semoga masa adven ini menjadi masa yang penuh makna untuk menyambut Tuhan. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC 

Pengumuman Perkawinan

Christopher Devi Arianto (Catholic) dengan Catherine Yenni Lo (Catholic). Pontianak (3). 

 

A Note From Chaplain

BENARKAH ORANG KATHOLIK MENYEMBAH WAFER?

Pastor, teman saya bertanya mengapa kamu menyembah wafer dalam Ibadat? Kenapa harus memakai perantaraan satu benda tertentu sebagai simbol dari Tuhan yang disembah? Bagaimana saya harus menjawab?

Dalam perayaan Ekaristi, hosti, setelah dikonsekrasi tidak lagi semata-mata hosti atau wafer. Dia benar-benar Tubuh dan Darah Kristus. Maka kita menyembah Pribadi Yesus dan bukan wafer. Hosti juga bukan hanya simbol dari Tuhan Yesus tetapi sungguh-sungguh Yesus yang hadir. Dalam Kitab Suci, Yesus menegaskan bahwa “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku , ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. m (Yoh 6:55-56). 

Tuhan Yesus menyatakan secara harafiah, dan Dia menyatakan dengan sangat tegas hingga para pengikutnya tidak bisa menerimanya dan meninggalkannya  (Yoh 6:66).

Rasul Paulus menyatakan (1 Cor 11:27 dan 1 Cor 10:16) dan menulis bahwa barangsiapa menerima komuni dalam keadaan tidak pantas. “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum  cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” Penegasan ini berarti Paulus mengerti bahwa roti benar-benar pribadi Yesus.

Proses perubahan dari roti menjadi tubuh Tuhan, itu disebut transubstaio atau transubstantsi. Itu berarti roti dan aggur yang digunakan dalam Ekaristi, setelah dikonsekrir dalam Doa Syukur Agung, terjadi perubahan, bukan hanya simbol atau tanda tetapi juga adalah tubuh dan darah Yesus yang sesungguhnya. Substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan DarahNya, namun yang dicerna oleh panca Indra tidak berubah. 

Santo Thomas Aquinas menggubah lagu yang sangat bagus:

Aku sembah sujud di hadapan-Mu
Tuhan yang tersamar hadir di sini
Hanya rupa roti tertampak kini
Namun aku yakin akan sabda-Mu.
Panca inderaku tak menangkapnya
Namun aku yakin akan sabdaMu
Sebab hanya Sabda Allah Putra
Kebenaran Mutlak tak tersangkalkan

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

Pengumuman Perkawinan

  1. Alexander Billy Saputra (Catholic) dengan Julystien Lies Alexandra (Catholic). Surabaya. (3).
  2. Christopher Devi Arianto (Catholic) dengan Catherine Yenni Lo (Catholic). Pontianak (2). 

 

A Note From Chaplain

Berkanjang Sampai Akhir Zaman 

HARI MINGGUBIASA XXXIII
Mal 4:1-2a
2 Tes 3:7-12
Luk 21:5-19

Beberapa waktu lalu, Film dengan judul 2012 –yang konon kabarnya berbicara tentang hari kiamat, mendapat perhatian sangat besar dari masyarakat. Pada hari-hari pertama diputar, gedung-gedung bioskop selalu penuh. Walau sebenarnya film itu sendiri tidak bicara tentang hari kiamat, tetapi lebih pada bencana alam yang melanda seluruh dunia. Pembicaraan tentang akhir zaman selalu menarik perhatian. Ramalan-ramalan tentang akhir zaman selalu menarik perhatian manusia. Hari Tuhan bisa bersifat mondial, artiya tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa lolos darinya. Tetapi  hari Tuhan bisa sangat personal. Ketika seseorang dipanggil Tuhan, Hari Tuhan sudah datang atasnya.

Bacaan Injil, juga bicara tentang akhir zaman. Runtuhnya Bait Allah (Luk 21:5-9) melambangkan hari Tuhan pada akhir zaman. Namun sebelum hari akhir itu datang masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Akan banyak yang akan mengaku sebagai Kristus: sebagai penyelamat. “Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan mengatakan akulah dia…” (Luk 21:8). Ayat ini bisa dimengerti di dalam dunia sekarang ini, ada banyak hal-hal yang dianggap seperti Kristus yang menyelamatkan, padahal bukan. Misalnya, orang yang berpikir bahwa uang adalah penyelamat. Maka banyak orang bertingkah laku kurang bermoral dan kurang bersusila hanya untuk mendapatkan uang. Contoh bisa ditemukan dengan mudah di dalam peristiwa-peristiwa hidup harian. Misalnya perampokan, jual-beli perempuan, penipuan dan tentu yang sangat menggelisahkan: korupsi. Orang menghalalkan segala cara karena tanpa sadar berpikir bahwa uang adalah Kristus atau penyelamat. Padahal sama sekali tidak sama. Dan Tuhan tidak suka disamakan dengan yang bukan Dia.

Rupanya sebelum hari Tuhan itu datang, akan datang prahara yang mengajak kita untuk memilah-milah dan memilih mana Penyelamat yang sejati.  Menghadapi itu, Tuhan mengatakan, “Waspadalah” (ayat 8). Waspada kepada apapun yang mengaku diri sebagai penyelamat. Maka kita perlu untuk memiliki sikap memilah-milah, membeda-bedakan: mana yang adalah Tuhan Penyelamat sejati, dan mana yang tuhan palsu dan pembawa kebinasaan. Dan kita harus memberi kesaksian, bahwa kita adalah masih bertaut kepada Tuhan yang benar.

Namun bagaimana caranya? Bagaimana kita berstrategi untuk menghadapi akhir zaman itu? 

Kita adalah Gereja. Dan Gereja katolik lewat tradisinya mengajarkan praktek-praktek hidup yang membawa kepada keselamatan. Salah satunya adalah meneliti batin sebelum kita tidur. Meneliti batin, itu tidak sama dengan meneliti dosa, walaupun tidak bertentangan. Meneliti batin lebih menjawab pertanyaan: dalam langkah laku sehari ini, saya ini melaksanakan kehendak Tuhan ataukah  tuhan palsu yang saya ikuti. Kemudian tindakan-tindakan kita periksa satu persatu. Dan kita akan menemukan bahwa bahwa sering perbuatan yang kita anggap baik, seringkali berujung kepada cinta diri semata. Maka kita perlu memurnikan diri. Meneliti batin juga membuat kita selalu memberi ruang dalam hati untuk Tuhan. Kita biarkan Tuhan hadir dan tinggal dalam diri kita.

Yang lain adalah perbuatan baik. Kita perlu bersaksi bahwa kita ini milik Tuhan. Bukti paling konkrit bahwa kita milik Tuhan adalah jika kita melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan. Dan seringkali dalam pengalaman harian, melaksanakan ajaran Tuhan itu tidak selalu mudah. Namun kita bisa, dan lihat: kita sementara melakukannya. Minggu ini kita mengumpulkan baju-baju bekas dan uang untuk kita sumbangkan ke panti-panti asuhan di pedalaman Indonesia. Kita juga terlibat di dalam pembinaan calon imam MSC. Di CIC Cambeltown kita membantu pastor-pastor diosesan yang tua dengan kolekte kedua. Kelompok-kelompok Bina Iman juga memberikan sumbangan-sumbangan kepada yang membutuhkan. Dan para umat yang menyumbangkan waktu untuk pelayanan sesama, misalnya beberapa waktu lalu FKM membuat video tentang tahap-tahap kehidupan berkeluarga. 

Beerbuat baik, kadang  menghadapi tantangan yang lebih besar. Memaafkan orang yang mencederai perasaan kita, menolong orang yang tidak tahu berterimakasih, berderma dengan uang yang sebenarnya masih kita butuhkan. Namun Jika kita setia melakukannya, Tuhan akan memberikan hikmat (ayat 18). Sehingga kita akan tetap mempertahanakan iman sampai akhir sehingga kita akan memperoleh hidup yang kekal.  

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

Pengumuman Perkawinan

  1. Nicholas Anggoro (Katholik) dengan Elizabeth Suryani Taslim (Katholik). OLSH. (3)
  2. Benedictus Alvian Yudhistira (Katholik) dengan Flavia Vicka Kaya Lestari. Pademangan, Jakarta. (3)
  3. Stephanus Leonardi Baratasidha (Catholic) dengan Shenny (Kristen GBI). Thomas Rasul, Jakarta. (3)
  4. Christian Edwin Valerie (Catholic) dengan Yossi (Khonghucu). Cibinong, Bogor. (3)
  5. Alexander Billy Saputra (Catholic) dengan Julystien Lies Alexandra. Surabaya. (2).
  6. Christopher Devi Arianto (Catholic) dengan Catherine Yenni Lo (Catholic). Pontianak (1). 

TERIMAKASIH DARI TAREKAT MSC

Tarekat MSC Provinsi Indonesia mengucapkan terimakasih yang besar kepada umat CIC Sydney atas keikut-sertaan dalam pembiayaan pembinaan calon-calon Imam MSC. Dari CIC Night 2019, sebagian dana Natal 2018 dan sumbangan-sumbangan umat, sudah terkumpul, sampai 30 Oktober 2019  A$ 21.080,23 dan US $ 1000. Ungkapan terimakasih kami ungkapkan dengan senantiasa mendoakan para penderma Tarekat, di komunitas-komunitas bina, provinsialat dan komunitas para pastor sepuh. Sekarang ini MSC Indonesia memiliki 125 calon imam dan bruder yang sementara dalam pembinaan. Pembinaan MSC memakan waktu 10-12 tahun dan dengan proses seleksi sangat ketat setiap tahunnya. MSC Indonesia selain bekerja di Indonesia juga memiliki anggota yang bekerja di Australia, United States, Belanda, Ecuador, Filipina, Italy, Jepang, marshal Island, Perancis, Vietnam, Curitiba dan Cuba. 

 

A Note from Chaplain

PURGATORY

Apa itu?

Purgatory berasal dari kata Bahasa latin, purgatorium, yang berarti api penyucian. Kata ini menunjuk kepada tempat atau proses bagai orang yang sudah meninggal untuk menjalani penyucian atau pemurnian. Gereja Katolik mengajarkan hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

1) Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.

3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Apakah Purgatory ada di dalam Kitab Suci?

Banyak orang yang tidak setuju dengan adanya purgatory karena tidak ada  di dalam Kitab Suci. Memang benar bahwa kata purgatory tidak ditemukan di dalam Kitab Suci, sebagaimana kita juga tidak menemukan kata Trinitas atau Inkarnasi. Namun refleksi iman tentang Purgatory bersumber dan berdasar kepada Kitab Suci. 

Ingrid Listiati, seorang theolog awam  di Katolisitas.org, menulis, antara lain, saya kutip:

  1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus, dan kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16). Sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri, bahwa Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.
  2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

Keadilan Tuhan

Hal lain yang perlu kita pertimbangkan adalah Allah itu selain Mahamurah juga Maha Adil. Maka di dalam pengalaman kita, selalu saja ada konsekuensi yang ditanggung oleh manusia, jika ia berdosa terhadap Allah, meskipun Allah telah memberikan pengampunan. Kita melihat hal demikian, misalnya, pada Adam dan Hawa, setelah diampuni dosanya, diusir dari taman Eden (Kej 3:23-24). Raja Daud yang diampuni oleh Allah atas dosanya berzinah dengan Betsheba dan membunuh Uria, tetap dihukum oleh Tuhan dengan kematian anaknya (lihat 2 Sam 12:13-14). Nabi Musa dan Harun yang berdosa karena tidak percaya dan tidak menghormati Tuhan di hadapan umat Israel akhirnya tidak dapat masuk ke tanah terjanji (Bil 20:12). 

Dalam pengalaman hidup, kita juga menemukan yang serupa. Misalnya ketika kita sudah bersalah kepada orang lain, walauapun kita sudah minta maaf dan sudah diberi maaf, tetapi membutuhkan proses pemuliahan. Demikian juga ada konsekwensi dari dosa-dosa yang kita lakukan saat kita masih hidup di dunia. 

 

Apakah Para kudus Mengajarkannya? 

Para Kudus dari abad-abad awal kekristenan sudah mengajarkannya. Sebagai contoh, St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut. 

 

Konsekwensi Imannya

Mari kita bawa saudara-saudara kita yang sudah meninggal dalam doa-doa kita terutama pada bulan November. Salah satu bentuk doa yang dianjurkan adalah memintakan ujud misa. 

 

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC  

Pengumuman Perkawinan

Nama pasangan dan tempat pernikahan. 

  1. Jesse Christian (Kristen) dengan Theresia Alice Ayu Adiningrum (Katholik). OLR. (2)
  2. Nicholas Anggoro (Katholik) dengan Elizabeth Suryani Taslim (Katholik). OLSH. (2)
  3. Benedictus Alvian Yudhistira (Katholik) dengan Flavia Vicka Kaya Lestari. Pademangan, Jakarta. (2)
  4. Stephanus Leonardi Baratasidha (Catholic) dengan Shenny (Kristen GBI). Thomas Rasul, Jakarta. (2)
  5. Christian Edwin Valerie (Catholic) dengan Yossi (Khonghucu). Cibinong, Bogor. (2)
  6. Alexander Billy Saputra (Catholic) dengan Julystien Lies Alexandra. Surabaya. (1).

Jika ada yang mengetahui adanya halangan menurut Hukum Gereja Katholik, mohon memberitahukan kepada Chaplain CIC. 

Dana Natal 

Sisa Dana Natal 2019, dipakai sebagai berikut. 50% disumbangkan, dan tahun ini disumbangkan ke pembinaan para calon-calon imam MSC, di mana CIC juga dilayani oleh imam-imam MSC. 50% dibagi ke masing-masing komunitas CIC: CIC Enmore-Newtown, CIC Kensington dan CIC SPJ. 

 

 

 

A Note from Chaplain

Mereka yang Sudah Berpulang

Tanggal 2 November.  Kita memperingati Arwah Semua orang beriman. Kita sebagai orang beriman di dunia ini tidak terpisahkan dengan umat beriman yang sudah meninggal dan yang sudah menjadi orang kudus karena sudah masuk Surga. Pada tanggal 2 November ini kita mendoakan mereka yang sudah meninggal, namun belum masuk ke dalam Surga. Mereka masih ada di tempat penantian, atau dalam bahasa lain api penyucian. Mereka adalah umat beriman yang merasa belum pantas untuk menerima kemuliaan sehingga perlu mempersiapkan diri untuk menantikan Sang Penebus yang akan mengubah tubuh mereka yang fana menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.

Pergumulan hidup manusia rupanya tidak berhenti di dunia. Sesudah meninggalpun, manusia masih diberi kesempatan untuk berjuang untuk memenangkan Kerajaan Surga.  Membaca Injil hari ini (Yoh 6:37-40) kita bersyukur karena kita memiliki Allah yang maharahim. Allah menghendaki agar semua manusia selamat dan untuk itu Allah telah mengutus PutraNya yang Tunggal untuk menyelamatkan kita, supaya kita dibangkitkan pada akhir zaman (Yoh 6:39). Ada kisah tradisional yang menceritakan Yesus setelah bangkit, masuk ke tempat penantian dan membujuk semua orang untuk ikut bersama-Nya masuk ke dalam Surga. Yesus menghendaki agar semua orang menemukan keselamatan abadi, dan tak seorangpun tinggal di dalam neraka.

Hal pertama yang saya rasa perlu kita renungkan adalah benarkah ada neraka. Renungan-renungan yang sering saya dengar sekitar kematian sering berorientasi kepada betapa mudah dan maha murahnya Tuhan mengampuni.  Sehingga renungan-renungan sangat optimis bahwa yang meninggal pasti masuk surga. Dan kemudian kita mudah melupakan keselamatan jiwa mereka. Banyak orang tidak dapat menerima bahwa Allah yang mahabaik membiarkan adanya neraka, tempat siksaan abadi. Untuk hal ini mari kita merenungkan demikian:

  1. Kita sungguh percaya akan kasih Allah. Kasih Allah dan Penebusan Yesus membuka gerbang neraka dan membuka pintu surga selebar-lebarnya. Tuhan sendiri datang kepada tempat penantian untuk mengantar orang ke Surga. 
  2. Namun Tuhan memperlakukan kita bukan seperti anak-anak tetapi sebagai orang dewasa yang turut menentukan nasib abadinya. Kepada manusia manusia memberikan kebebasan –karena kita bisa mencintai Allah hanya jika kita bebas. Maka dalam ruang kebebasannya itu manusia memiliki kesempatan untuk mencelakakan diri.  Kita telah mempergunakan kebebasan kita sewaktu di dunia dan kebebasan itu membuat kita mendidik watak dan perilaku kita. Untuk orang-orang yang membina wataknya berkebalikan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah maka Surga menjadi tempat yang asing. Maka Neraka bukan diciptakan Allah karena dendam atau karena Allah menghendaki tetapi sikap membangkang kasih Allah. 
  3. Kardinal U. von Balthasar mengatakan “Pintu Surga selamanya terbuka lebar untuk manusia yang mau masuk tetapi tak seorangpun dipaksa untuk masuk”. 

Maka mari para saudara, pada hari peringatan seluruh umat beriman ini, mari kita doakan dengan sungguh-sungguh mereka yang sudah dipanggil Tuhan. Kita doakan agar para saudara kita tidak menolak untuk diubah oleh Yesus menjadi serupa dengan Tubuh-Nya yang mulia, walaupun proses tranformasi itu sering menakutkan dan menuntut kurban.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC

Pengumuman Perkawinan

Nama pasangan dan tempat pernikahan. 

  1. Jesse Christian (Kristen) dengan Theresia Alice Ayu Adiningrum (Katholik). OLR.
  2. Nicholas Anggoro (Katholik) dengan Elizabeth Suryani Taslim (Katholik). OLSH.
  3. Benedictus Alvian Yudhistira (Katholik) dengan Flavia Vicka Kaya Lestari. Pademangan, Jakarta.
  4. Stephanus Leonardi Baratasidha (Catholic) dengan Shenny (Kristen GBI). Thomas Rasul, Jakarta.
  5. Christian Edwin Valerie (Catholic) dengan Yossi (Khonghucu). Cibinong, Bogor. 

Jika ada yang mengetahui adanya halangan menurut Hukum Gereja Katholik, mohon memberitahukan kepada Chaplain CIC. 

A Note from Chaplain

MARI MERAPIKAN RUMAH KITA

Cobalah sesekali kelilingi rumah anda. Dan anda akan menemukan banyak barang yang sebenarnya tidak anda gunakan lagi. Ada kardus kosong, sandal dan sepatu, barang elektronik, majalah dan kertas-kertas. Demikian juga kalau anda masuk ke dalam rumah, apartemen atau bahkan kamar pribadi  dan menatap searah jarum jam, akan dijumpai juga banyak barang yang sebenarnya tidak digunakan. Rumah dan kamar yang terlalu banyak barang ternyata mempengaruhi ketentraman hati. Kamar yang penuh barang membuat hati terasa terhimpit. Namun anehnya kita selalu suka berbelanja dan menambah barang-barang kita. Berbelanja barang-barang yang sebenarnya kurang kita perlukan. 

Mulai dari Kamar

Irama hidup harian sebaiknya dimulai dengan kamar. Jika kamar kita rapi, hati kita juga akan tenang dan tentram. Setelah kamar beranjak ke rumah. Rumah yang rapi, lapang dan (bila mungkin) sejuk, akan menciptakan kebahagiaan dalam keluarga. Sebaliknya rumah yang amburadul juga akan mudah menyulut emosi. Kamar dan rumah yang rapi akan mempengaruhi pekerjaan kita. Pergi dengan hati damai, kala pulang segera dipeluk kedamaian. Alangkah baiknya kalau kita secara berkala membersihkan dan mengatur ulang rumah dan kamar kita.

Urut-ururan membersihkan kamar/rumah

Membersihkan kamar dan rumah ternyata menjadi obyek studi. Banyak seminar dan acara TV seperti di BBC Knowledge telah membahasnya. Hal itu membuat saya semakin yakin bahwa aktivitas mengatur ulang dan membersihkan kamar sangat berguna. Pengetahuan tentang urut-urutan mengatur kamar sangatlah diperlukan. Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya, karena saya –seperti anda juga, perlu mengatur kembali kamar dan rumah minimal setahun sekali, dan harus membuang banyak barang. Dan kamar yang rapi dan efisien sangat membuat nyaman dalam bekerja. Dari beberapa sumber (tv program, artikel) saya berusaha menyusun urut-urutan menata kamar/rumah sebagai berikut:

  1. Sediakan waktu yang cukup

Membersihkan dan merapikan kamar/rumah sangat menyenangkan. Namun kita membutuhkan waktu yang cukup. Hal pertama yang anda perlukan adalah menyediakan waktu yang mencukupi supaya selesai tuntas. Kita tidak bisa membereskan kamar hanya dalam waktu satu jam. Untuk rumah yang tidak rapi bisa dua hari baru selesai. Maka sediakanlah waktu yang cocok untuk acara bersih-bersih rumah. 

  1. Apa yang penting bagi anda sekarang?

Hal kedua yang dibuat adalah menentukan hal apa yang penting. Yang penting itu bisa berupa pekerjaan, proyek, urusan rumah tangga,  tanggungjawab, fungsi dalam masyarakat atau hoby. Misalkan yang penting bagi anda sekarang ini adalah: menjadi bendahara pembangunan gereja, mengajar, memancing bersama keluarga, memasak, dll. Memutuskan apa yang penting akan menentukan pengaturan kamar atau rumah kita.

  1. Memberi Nama pada rak/Almari/Kotak

Setelah anda tahu tentang apa yang penting bagi anda sekarang ini, anda mulai menamai rak-rak yang sudah ada. Jika  kurang, sedikanlah kotak-kotak, namun sebaiknya yang kuat agar bisa dipakai untuk menyimpan barang. Alat penyimpanan itu harus diatur berdasarkan bentuk dan jenisnya, misalnya buku disatukan dengan buku, warna dan ukuran yang hampir sama. Yang kedua diatur sesuai fungsinya misalnya alat bermain anak, alat olahraga, alat permbersih dan seterusnya.

  1. Mensortir barang anda

Mensortir barang sangat menyenangkan. Karena kita akan terkaget-kaget karena ternyata memiliki banyak barang, yang sering anda tidak sadari. Bahkan barang yang kita sangka sudah hilang ditemukan kembali. Demikian juga kita akan heran karena ada banyak barang yang tidak efektif kita gunakan: obat suplemen yang tidak habis dikonsumsi, buku separo terisi, baju yang tidak pernah dipakai lagi, dll. Pengalaman saya mensortir barang akan menyenangkan dengan:

  1. Disediakan sebuah meja yang cukup besar untuk menaruh barang-barang anda.
  2. Searah jarum jam, ambillah barang-barang yang anda miliki yang mungkin ditaruh di atas meja, seperti buku, kertas, peralatan,dll.
  3. Setiap barang yang disortir anda harus memutuskan:
    1. Apakah masih digunakan sekarang ini?

Jika Jawabannya  Tidak:

Anda bisa membuangnya. Sering kali rumah kita begitu penuh karena barang-barang yang sebenarnya sudah harus dibuang seperti koran bekas, undangan-undangan, vas bunga hadiah teman, barang-barang rusak, obat kedaluwarsa, dll.

Menjualnya: barang yang masih bagus tetapi tidak dipakai, bisa kita jual dengan harga murah. Tumpukan koran, besi tua, majalah bisa kita jual. 

Mengalih fungsikan: misalnya pakaian yang sudah tua dijadikan lap.

Suatu saat mungkin diperlukan: berarti harus disimpan di tempat yang sudah ditentukan. Namun harus disimpan bersih dan rapi. Prinsipnya ketika menyimpan barang anda harus akan dengan mudah mendapatkannya.

  1. Jika Masih digunakan

Sementara dikerjakan:

Berarti harus ditempatkan di tempat yang mudah untuk ditemukan. 

Sering digunakan

Ditempatkan di tempat yang mudah dilihat untuk ditemukan dan digunakan.

Setelah selesai merapikan rumah, anda akan merasakan damai. Ingat bahwa rumah yang rapih akan membuat penghuninya merasa krasan dan gembira. 

Namun tugas anda belum selesai. Anda harus menjaganya agar tetap bersih dan rapi. Maka diperlukan yang namanya disiplin. Dalam ruang yang lebih lapang anda akan lebih bahagia seperti semboyan Luxury in simplicity: Kemewahan dalam kesederhanaan. 

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC

 

 

A Note from Chaplain

KEBAKTIAN KEPADA HATI KUDUS YESUS

Surat St. Maria Margaretha Alacoque

Saya percaya bahwa kehendak Tuhan agar kebaktian pada HatiNya Yang Mahakudus dilaksanakan adalah kehendakNya untuk memperbaharui jiwa kita dengan efek dari penebusan kita. Karena Hati Kudusnya adalah sumber air yang tiada henti, yang tidak ada tujuan lain kecuali memenuhi hati kita, sehingga hati kita siap dan berkehendak untuk membaktikan hidup kita kepada HatiNya.

Melimpah dari hati IlahiNya, tiga aliran air yang tiada henti. Aliran pertama adalah aliran belaskasih kepada para pendosa, yang kepada mereka dialirkan semangat penyesalan dan silih. Aliran kedua adalah aliran cintakasih yang mengalir untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang berjuang di dalam kesulitan, dan terutama bagi mereka yang menghendaki kesempurnaan hidup rohani, sehingga mereka menemukan kekuatan dalam mengatasi pelbagai kesulitan. Dan aliran yang ketiga mengalir dengan cinta dan terang, kepada para sahabat-sahabat Kristus yang sempurna, kepada mereka Kristus berkehndak untuk membawa kesatuan yang sempurna dengan diriNya, untuk berbagi dengan mereka pengetahuan dan perintahnya, sehingga mereka membaktikan diri seutuhanya, dengan caranya sendiri, untuk kemuliaan Kristus.

Hati ilahiNya adalah samudra penuh dengan kebaikan, dimana jiwa-jiwa yang miskin mendapatkan apa yang diperlukan; samudra penuh dengan sukacita  yang menyerap segala kesusahan kita, samudra kerendahan hati yang mengatasi kebodohan kita, samudra belaskasih bagi mereka yang bersedih, samudara cinta kasih yang melenyapkan kemiskinan kita.

Persatukan dirimu dengan Hati Kudusnya. Apakah engkau mengalami kesulitan dan tidak ada kemajuan di dalam doa-doamu? Cukupkanlah dengan mempersembahkan doa yang Tuhan ajarkan kepada kita di hadapan Sakramen Mahakudus di atas altar Berdoalah dengan cara ini, “Allahku, Aku melakukan bakti ini, sehingga dalam Hati Kudus PutraMu dan menurut kehendakNya yang kudus, aku ingin melakukan silih atas segala kejahatan dan ketidaksempurnaan yang sudah aku lakukan”. 

Tetapi diatas semuanya itu, aturlah damai di dalam hati, damai  yang mengatasi segala hartabenda. Tidak ada yang cara yang lebih efektif dari mengelola damai dalam hati selain meninggalkan keinginan-keinginan sendiri, dan menggantinya dengan kehendak Hati Kudus Yesus sendiri, sehingga Dia yang akan berkarya dalam diri kita.  Mengarahkan diri kepada kemuliaanNya, dengan penuh kegembiraan kita berserah kepadaNya dan memberikan kepadanya kepercayaan kita secara penuh. 

Diinterpretasikan oleh Fr. Petrus Suroto MSC. 

Santa Margaretha Maria Alacoque lahir di tahun 1647. Dia bergabung dalam Kongregasi Visitation Sister di Paray-le-Monial. Dia mengalami penampakan Mistik Tuhan Yesus yang mewahyukan kebaktian kepada Hati Kudus Yesus. Wafat 17 Oktober 1690. 

A Note from Chaplain

PAULUS, RASUL AGUNG GEREJA (3)

Tulisan ini adalah Kutipan dari sebuah diktat, sumber tidak diketahui. 

Tugas Misi 

Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya mengenai misi ke seluruh dunia ini. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20) 

Kita menyebut perintah ini sebagai “Amanat Agung”. Amanat Agung untuk “semua bangsa”. Memang sulit bagi para pengikut-Nya untuk memulai pekerjaan ini, bahkan setelah kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga. Kemungkinan besar para murid Tuhan Yesus mula-mula menetap di Yerusalem, namun karena penganiayaan semakin menjadi-jadi, mereka akhirnya tercerai-berai dan tersebar ke negera-negara lain. Jadi, mereka menyebarkan Injil, namun mereka sebetulnya tidak memiliki rencana untuk melakukan hal itu. Tetapi, orang-orang Kristen ini membutuhkan seorang pemimpin yang dapat mengatur, merencanakan program, dan memimpin mereka di dalam suatu misi kepada bangsa-bangsa lain. Pemimpin ini adalah Paulus. Kira-kira, sepuluh tahun setelah pertobatannya, ia telah mempersiapkan dirinya dan bersiap-siap untuk memimpin misi gereja yang nyata ini. 

Perjalanan misionaris pertama (tahun 44-49) Kisah Para Rasul 13:1-14:28

Semula Paulus pergi bersama Barnabas ke Siprus. Kemudian mereka pergi ke Asia Kecil lewat Ikonium dan Listra ke Derbe. Mereka pulang lewat jalan keberangkatannya kembali ke Antiokhia. Masalah yang menjadi bahan pertentangan adalah: Apakah orang kristen asal kafir ikut dituntut memenuhi hukum Perjanjian Lama, terutama melaksanakan sunat. Hal itu diputuskan di dalam Konsili para Rasul (tahun 49) sesuai dengan pandangan Paulus. Sekaligus ia diakui sebagai rasul untuk orang-orang kafir, seperti Petrus untuk orang-orang Yahudi (Galatia 2:7).


Perjalanan misionaris kedua (tahun 49-52; Kisah Para Rasul 15:36-18:22). 

Paulus pergi menuju benua Eropa lewat Asia Kecil dengan ditemani Silas dan Timotius. Paulus mendirikan sebuah jemaat yang hampir melulu terdiri dari orang kristen asal kafir (Kisah Para Rasul 16:11-40; 1 Tesalonika 2:2). Di Tesalonika Paulus menimbulkan sebuah permusuhan luar biasa dari pihak orang-orang Yahudi: Ia digugatkan ke pemimpin kota. Atas adanya gugatan itu Paulus harus meninggalkan kota dan melanjutkan perjalanan ke Athena. Ia sedih sekali (1 Tesalonika 3:3-4) dan setengahnya putus harapan (bandingkan: 1 Korintus 2:3) atas kegagalannya di Athena. Putusannya sudah tetap untuk meninggalkan jalan kefasihan serta kebijaksanaan manusiawi, waktu ia datang di Korintus (1 Korintus 2:2-3). Di situ ia tinggal di Galatia di rumah Akwila dan Priskila. Beberapa orang Yahudi dan banyak orang kafir ditobatkannya, terutama dari kalangan masyarakat rendahan (1 Korintus 1:26). Diperkirakan, bahwa pada pertengahan tahun 52 ia digugatkan oleh orang-orang Yahudi pada Gallio. Ia dituduh sebagai penyebar agama “yang melawan hukum”. Gallio menolak gugatan mereka. Paulus lalu pergi ke Antiokhia.


Perjalanan Misionaris ketiga

Dari Antiokhia Paulus berangkat untuk perjalanan misionarisnya yang ketiga (1 Korintus 53-58; Kisah Para Rasul 18:23; 21:14), yang dilakukannya melintasi Asia Kecil menuju ke Efesus. Di situ ia tinggal selama tiga tahun dan “ada banyak kesempatan baginya untuk melakukan pekerjaan yang besar dan penting” (1 Korintus 16:9). Di situ pula ditulisnya surat kepada jemaat di Galatia dan surat pertama kepada jemaat di Korintus. Ia terpaksa pergi karena timbulnya sebuah pengejaran. Kemudian ia datang di Korintus lewat Makedonia (Kisah Para Rasul 20:3). Ia berangkat ke Yerusalem membawa dana seraya dipenuhi berbagai macam pikiran (Kisah Para Rasul 20:13-21:17). Ia mengandung maksud untuk berada di Yerusalem pada hari Pentekosta. Di situ ia ditangkap karena menajiskan kenisah (Kisah Para Rasul 21:27-34).

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC

 

A Note from Chaplain

PAULUS, RASUL AGUNG GEREJA (2)

Tulisan ini sebagian besar diambil dari sebuah diktat, sumber tidak diketahui. 

Pertobatan Paulus

Paulus telah membuat banyak orang Kristen mati dan ribuan dipenjarakan. Dan dia mendengar kabar bahwa ada banyak pengikut Yesus di Damsyik. Maka dia meminta surat izin dari yang berwenang untuk menindak para pengikut Yesus di Damsyik.  Jarak ke kota Damsyik sekitar 240 km, sehingga dia membutuhkan waktu antara 6-7 hari. 

Selama perjalanan panjang ini anak muda yang pandai dan penuh semangat ini mempunyai banyak waktu untuk berpikir. Mungkin ia mulai meragukan tindakannya. Dia tidak habis berpikir dan tidak mengerti bagaimana Stefanus bisa mati dengan begitu tenangnya. Dia tidak dapat melupakan doa Stefanus ketika Stefanus “menutup mata” dengan damai. Paulus merasa bahwa dia harus melakukan hal yang ia pandang benar, tetapi dia terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Dalam perjalanan itu rahmat Tuhan sudah mulai bekerja padanya. Yesus ingin menangkap pemuda yang bersemangat ini menjadi teman dan sahabatnya. 

Pertobatan Paulus terjadi ketika ia mendekati kota itu. Pada waktu tengah hari, tiba-tiba sebuah cahaya yang membutakan mata bersinar mengelilingi Paulus dan teman-temannya. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah suatu suara berkata kepadanya, “Saul, Saul mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” (Kisah Para Rasul 9:4-6) Paulus berdiri dari tanah dan mendapati dirinya buta. Beberapa anak buahnya menuntun dia dan membawanya ke Damsyik. Selama tiga hari lamanya dia tidak dapat melihat dan tidak makan ataupun minum. Pengalaman ini mengubah Paulus sepenuhnya. Sekarang orang Farisi yang sombong ini berubah menjadi seorang yang kesakitan, gemetar, meraba-raba dan bergantung pada tangan orang lain yang menuntunnya sampai ia tiba di Damsyik. Ia pergi ke rumah Yudas dan langsung masuk ke kamarnya. Di sana ia tinggal selama tiga hari tanpa makanan dan minuman. Selama tiga hari itu Paulus berdoa dan berpuasa. Seluruh hidupnya telah berubah setelah pertemuannya dengan Kristus. Sekarang dia harus membangun kembali kehidupannya di dalam Kristus. 

Paulus mulai mengajar. Namun segera disadari bahwa dia perlu untuk belajar. Paulus pergi ke Arab dan tinggal di sana selama tiga tahun. Inilah waktu untuk belajar dan mendalami Firman Allah guna mempersiapkan dirinya kepada satu pelayanan yang penting, yang sudah menunggu di hadapannya. 

Setelah tinggal di Arab, ia kembali ke Damsyik. Di sana banyak orang mendengarkan pemberitaannya dengan penuh semangat. Tetapi, tidak lama kemudian orang-orang Yahudi berusaha mencari dan membunuhnya. Oleh sebab itu, para murid merencanakan untuk meloloskan dia. Pada suatu malam Paulus disembunyikan dalam sebuah keranjang dan diturunkan di luar tembok kota. 

Sekarang, Paulus, mantan penganiaya jemaat, berubah total menjadi pewarta Kristus. Dengan kepandaiannya dan pemahamannya akan hukum taurat, dia bisa mengajar dengan sangat baik. Namun pengalaman berjumpa dengan Kristus membuatnya sangat bersemangat. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Rm. Petrus Suroto MSC