Home

CIC SPJ Online Rosary Session

 

Happy Thursday everyone! 🤗 You know what that means right? It’s rosary night! Join our online rosary session 7pm tonight so we can pray together during these times of need. Message us through our Instagram account @cicspj if you would like to join so we can send you the link!

Play, Pray & Praise God (P3G) Apr 2020

In His darkest hour, Jesus uttered seven last words of great meaning to those who contemplate His passion and death. On these last days of lent, let us ponder those words and find out what Jesus meant by His last 7 words. Join us for our first online P3G session this weekend (Saturday & Sunday 4 & 5 April 2020) at 4pm.
Registration is needed via link on our bio for online conference call invitation.

A Note From Chaplain

Hari Raya Kabar Sukacita

Minggu, 29 Maret 2020 
Yes 60:1-6
Ef 3:2-3a, 5-6
Mat 2:1-12

MELAKSANAKAN KEHENDAK TUHAN 

Saya pernah melihat acara di TV, seorang motivator ulung Indonesia yang berbicara tentang hasrat yang benar. Kalau kita renungkan setiap orang tentulah memiliki hasrat. Ada orang yang hasratnya menduduki kedudukan atau mencari kekayaan sebesar-besarnya. Tetapi motivator tadi bertanya, hasrat apa yang paling tinggi. Dan dia menjawab kedudukan dan pangkat menjadi bermakna jika dipakai untuk menjadi sebaik-baiknya manusia yaitu yang berguna bagi sesama.

Kalau hasrat yang paling benar adalah menjadi sebaik-baiknya manusia yang berguna bagi sesama, Bunda Marialah orangnya. Konteks pada zaman Maria adalah mereka sementara menanti-nantikan campur tangan Tuhan. Manusia sudah terlalu bebal hati sehingga hukum-hukum Tuhan tidak ditaati lagi. Namun Tuhan tidak membatalkan rencana-Nya untuk membahagiakan manusia. Dia merencanakan agar Sang Putra turun menjelma menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel (Yes 7:14).  Namun untuk maksud itu dipeerlukan kerja sama manusia, “seorang perempuan muda akan mengandung” (Yes 7:14). Dan Marialah yang terpilih.

Gereja merayakan Maria Menerima Kabar Gembira ini sebagai peristiwa yang penting. Kesediaan Maria untuk melaksanakan kehendak Bapa merupakan kabar sukacita bagi seluruh umat manusia. “Ya” Maria merupakan jembatan yang  menghubungkan Surga dengan Dunia. Dunia yang berdosa akan dihubungkan kembali dengan Surga Mulia.

Ternyata misi yang besar ini, justru mensyaratkan sikap sederhana. Maria menjadikan diri-Nya Bunda Tuhan bukan dengan mencari kebesaran dan prestasi. Dia tidak berusaha menjadi pusat dengan pelbagai aktivita. Justru dia mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk 1:38). Keputusan paling penting dalam diri Maria justru sikap Maria yang meninggalkan segala perkara dalam tangan Tuhan, menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan. Dia tidak memiliki rencana sendiri, tetapi Tuhan yang merencanakan dan dia melaksanakannya dengan penuh ketaatan hamba. Dengan sikap serah diri itu, Bunda menjadi tenang, damai, siap siaga, jernih dan bening; siap melaksanakan kehendak Tuhan kapan saja.

Apakah ini berarti Maria bersikap pasif total, karena bukankah Tuhan yang melaksanakan? Tidak saudaraku. “Ya” Maria adalah “ya” yang aktif. Perhatikan bahwa sebelum Bunda mengatakan kesediaannya, dia bertanya, “Bagaimana hal ini terjadi karena saya belum bersuami?”(Luk 1:34)  Dan justru karena pertanyaan itu, rahmat Tuhan berjatuhan dari atas. Allah menjamin bahwa Roh Kudus akan menyertai Maria. Bunda bertanya dan justru karena pertanyaan itu menjadi jelas apa yang harus dibuat selanjutnya.

Hal lain lagi yang menambahkan bahwa Bunda Maria tidak sekedar pasif total adalah konsekwensi yang harus dia tanggung. Banyak kesulitan yang dihadapi Bunda Maria dalam melaksanakan panggilan Tuhan: melahirkan di kandang, mengungsi ke Mesir, mencari Yesus ketika tertinggal di Bait Allah, melihat Putra-Nya memanggul salib sampai memangku jenasah Putra-Nya. Panggilan Tuhan mengandung resiko dan pengorbanan diri, seperti seorang hamba menanggung kesulitan ketika melaksanakan kehendak tuannya.

Para saudara, pesan apakah yang dapat kita pelajari dari Hari Raya ini?  Mari kita mencari hasrat yang benar dalam hidup. Dan hasrat yang benar itu adalah mencari, menemukan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Namun menemukan kehendak Tuhan belumlah cukup. Sebagaimana Bunda bertanya kepada Malaikat, kitapun  perlu dan harus bertanya “bagaimana”. Pertanyaan bagaimana membuat kesediaan kita menjadi lebih berharga. Bagaiaman supaya aku menjadi pastor yang lebih baik lagi, bagiamana aku dapat menjadi guru yang lebih baik, bagaimana aku menjadi orangtua yang lebih baik dan seterusnya.

Marilah kita meneneladan Maria: melepaskan diri untuk dibentuk oleh Tuhan pada setiap kejadian  hidup kita. Dan menjadikan diri kita berguna bagi sesama. Tentu cara kita menjadi berguna berbeda dengan Bunda kita. Kalau Bunda Maria adalah misi raksasa menjadi Bunda Tuhan. Kita diberi misi kecil, tetapi membutuhkan kesetiaan. Contoh kecil, sekarang ini, waktu renungan ini saya tulis, kita sementara diminta untuk bepergian jika tidak sangat penting, tetapi tinggal di rumah. Hal ini dilakukan untuk menghambat penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh viruscorona. Setia melakukannya adalah hal yang mudah jika dibanding dengan misi Maria. Tetapi walau kecil jika kita setia kita juga menjadi berguna bagi sesama atas resiko sakit karena terinfeksi coronavirus. Yang penting kita memiliki kesetiaan.

Saudaramu dalam yang sementara berjarak karena viruscorona. PS

 

A Note From Chaplain

COVID-19 DAN CIC

CIC adalah bagian dari masyarakat manusia. Maka ketika dunia dilanda pendemic COVID-19, kita juga terkena dampaknya. Seperti dalam dokumen konsili Vatikan kedua, Lumen Gentium.”Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (LG 1). Maka seturut panduan dari Keuskupan Agung Sydney, kita juga mengaplikasikan dalam CIC:

Liturgi Kita

  • Umat hendaklah tidak lebih dari 100 orang. Dan duduk dengan jarak yang aman (kecuali anggota keluarga). Untuk misa besar seperti Paskah akan dibicarakan lebih lanjut oleh para koordinator bagaimana mengaturnya agar kurang dari 100 orang.
  • Alcolhol-based gels harap disedikan di pintu masuk, ruang pengakuan dan sekitar altar.
  • Tidak ada komuni dua rupa, komuni harus di tangan, salam damai dengan menundukkan kepala, tidak ada bergandengan tangan saat Doa Bapa Kami.
  • Tidak dibagikan buku Puji Syukur.
  • Kolekte tidak diedarkan tetapi ditaruh.
  • Mengikuti arahan Keuskupan Agung Jakarta, diharapkan misa lebih pendek, misalnya dengan tidak menyanyikan lagu ordinarium. 

Pelayanan Chaplain 

Chaplain tetap memberikan pelayanan kepada umat, terutama dalam pemberian sakramen dan sakramentali. Mohon agar mengundang umat lain jangan terlalu banyak. Misalnya jika meminta berkat rumah, cukup keluarga inti dan teman beberapa saja.

Sehubungan dengan Kegiatan CIC

Para koordinator dan Chaplain memutuskan untuk membatalkan CIC Night dan CIC Games, setelah melalui banyak pertimbangan.

Seminar Liturgi pada tanggal 22 Maret dibatalkan karena Aula Kensington ditutup sementara waktu. 

Doa Kelompok Bina Iman umat tidak dilarang, tetapi Chaplain menyetujui jika tidak diadakan sampai waktu aman. Jika diadakan di rumah-rumah mohon makanan tidak prasmanan tetapi dalam container.

Penjualan makanan dianjurkan untuk distop untuk sementara waktu. 

Doa lewat perantaraan Santa Corona

Santa Corona adalah seorang suci dan martir, sekitar tahun 170 M, dan menjadi pelindung mereka yang menderita karena sakit menular. 

“Ketika dilanda ketidakpastian, Tuhan ajari aku untuk tetap tenang.

Saat banyak berita simpang siur, entah benar,entah tidak, bantulah aku untuk memilah-milah dan membedakan, dan memagang yang benar.

Ketika ketakutan melanda dan kekawatiran menyesakkan, Tuhan tuntun aku.

Ketika kami tidak bisa menjabat tangan teman dan sahabat, buatlah supaya kami tetap dekat.

Ketika kami harus berjarak dengan sesama, semoga kami tetap dijembatani dengan kasih.

Berkatilah para doker dan perawat. Bantulah para peneliti agar cepat ditemukan obat untuk penyakit ini. Bagi para penderita karena corona virus, berkati dan kuatkan mereka. Dan semoga krisis ini cepat berlalu dan dunia ini Engkau berkati menjadi lebih sehat.

Santa Corona, doakanlah kami. 

Lebih Dekat dengan Keluarga 

Saat-saat ini, ketika kita banyak di rumah, marilah kita memakai waktu untuk keluarga. Perbanyaklah waktu untuk bercakap-cakap, saling mendengarkan dan mengapresiasi dan memberi waktu bersama.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

From Chaplain CIC Sydney

Beberapa pengumuman dari Chaplain CIC Sydney

1. Tidak ada Misa di Saint Peter Julian mulai Sabtu, 21 Maret 2020 sampai ada informasi selanjutnya. Jalan Salib hari Jumat di OLR berjalan seperti biasa. Misa Jumper akan diinfromasikan kemudian.
2. Misa Online. Tersedia misa online yang dari Indonesia. CIC tidak menyediakan misa online. Salah satunya di YouTube channel “Komsos Katedral” – Hari Sabtu : 16:00 WIB – Hari Minggu 09.00 dan 17.00 WIB dengan subscribe terlebih dahulu.
3. Kegiatan P3G SPJ untuk sementara ditunda. Rosario tetap dilaksanakan setiap hari Kamis pukul 19.30 via google hangout. DM untuk info lebih lanjut
4. Bagi yang tidak bisa misa, Chaplain anda tetap akan merayakan misa atas nama umat CIC.
Keep praying and stay healthy everyone! 🙏🏻

A Note From Chaplain

Peneguhan

Menurut ilmu Psikologi, salah satu kebutuhan penting manusia adalah kebutuhan akan peneguhan. Peneguhan akan membuat kita bahagia dengan diri kita dan menyuburkan pertumbuhan dan perkembangan diri. Saya memiliki pengalaman yang sangat manis tentang peneguhan. Waktu saya duduk di bangku  kelas dua Sekolah Dasar, saya adalah murid yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, nilai merah di raport lebih banyak dari pada yang biru. Situasi ini membuat prihatin guru kelasku yang bernama Pak Agustinus. Beliau mengunjungi rumahku dan mengajariku membaca. Wajahnya santai, dan dia mengatakan, “saya tahu kau pasti bisa”. Pendekatan dan kata-katanya membuatku bersemangat. Ketika saya sudah cukup lancar, satu hari saya diminta membaca di depan kelas. Teman-teman mentertawakan saya karena biasanya saya selalu gagal. Kali ini bisa, dan Pak Agustinus tersenyum dan angkat  jempol untuk saya. Saya bangga sekali. Dan sejak saat itu prestasi belajarku meningkat pesat.

Dalam bacaan Injil  (Mrk 9:2-10), dikisahkan bahwa Yesus juga mendapatkan  peneguhan dari Bapa-Nya. Suara “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk:9:7). Peneguhan dari Bapa, membuat Yesus setia dalam mengemban misi penyelamatan dunia lewat sengsara, wafat dan kebangkitan. Kitapun juga membutuhkan peneguhan. Dengan meninggalkan masa kanak-kanak, kebutuhan akan peneguhan masih tetap ada.  Namun peneguhan itu sering bukan dari orang lain, tetapi dari Tuhan sendiri. Ada beda antara pujian dan peneguhan. Pujian membuat kita melambung, peneguhan membuat kita percaya diri. Peneguhan didasarkan kepada upaya keras kita. Dalam bacaan Pertama, dikisahkan bahwa Abraham diteguhkan Allah. Namun peneguhan dengan janji ilahi itu terjadi setelah Abraham dengan perjuangan yang besar dan berat telah hendak mengorbankan putranya, Ishak,  kepada Tuhan. 

Bagaimana kita dapat peneguhan? Kita akan mendapatkan peneguhan setelah kita bekerja sebaik mungkin: bekerja lebih baik dan lebih besar. Pekerjaan yang baik akan mengundang orang untuk memberikan peneguhan. Pun jika luput dari perhatian orang lain, kita mengalami kepuasan yang memberi peneguhan hati  bahwa kita mampu. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC 

 

Play, Pray & Praise God (P3G) Mar 2020

“The Lord is my rock, my fortress and my deliverer; my God is my rock, in whom I take refuge, my shield and the horn of my salvation, my stronghold.” – Psalm 18:2

In this month of lent as we practice fasting and abstinence let’s awaken our spiritual body and feed it lots of God’s word. Join us for a special P3G Thursday edition next week with Om Wimpie!
#lets19evelup *THURSDAY 12 March 2020, 6.30pm, SPJ Hall (Enter from Sussex Street)* P.S. Don’t forget to attend this Saturday’s P3G “Set Me Free”!

Play, Pray & Praise God (P3G) Mar 2020

Everyone wears masks to hide their darkest secrets. Satan uses that against us leading to more addictions, shame and brokenness. Eventually we reach the point where we have forgotten who we are and what we are made of. We seek the love that will set us free from the cycle of sins. We need to encounter Jesus every day, as He is the only One that can set us free.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Join us this Saturday as we learn about how Satan’s slightest whisper of guilt is easily received by a fragile heart plundered by its dark secrets. In this moment of lent, we are reminded once again that no matter what we have done, a very costly toll has been paid for the road to our restoration, to SET US FREE!

A Note From Chaplain

LATIHAN ROHANI DI MASA PRAPASKAH

Satu hari saya melihat seorang bucher yang sementara bekerja. Dia bekerja mempergunakan pisau, yang tidak besar tetapi tajam sekali. Dia bisa memotong daging dengan sangat rapih. Dia bekerja dengan sangat cepat. Saya tidak melihat butcher tadi mengasah pisau, tetapi saya yakin dia pasti rajin mengasah pisau setajam itu sehingga bisa bekerja dengan cepat dan rapih.

Pisau harus diasah. Demikian juga naluri rohani kita juga harus diasah supaya menjadi tajam. Kita masuk dalam masa prapaskah. Gereja  memberi waktu kepada kita untuk “mengasah pisau” kita. Dan masa itu dibuka dengan dengan penandaan abu di dahi kita.

Penandaan abu mengingatkan kita bahwa tubuh jasmani kita suatu saat akan hancur dan hilang. Namun roh kita tetap abadi. Maka kita harus merenungkan pentingnya kehidupan rohani. Dan kemudian ditambahkan dengan frase, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Bertobat berarti mengarahkan dan hidup yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan percaya kepada Injil berarti membuka diri kepada rencana keselamatan Allah yang diberikan kepada kita, dan kita menjalani sikap-sikap Kerajaan Allah dengan mengikuti ajaran-ajaran Tuhan Yesus.

Kita juga diaajak untuk menyadari dosa dan kelemahan kita. Bahkan lebih dari itu kita diajak menyadari bahwa dosa kita ini berdimensi sosial juga. Misalnya di Jakarta pernah ada kejadiah kecil tetapi dampaknya panjang. Di salah satu misa pagi, ada umat yang membawa tas plastik warna hitam. Selesai misa dia lupa membawa tas itu dan tertinggal di bawah bangku gereja. Ketika diketahui, regu polisi didatangkan. Walaupaun segera diketahui bahwa tas itu sama sekali bukan bom, tetapi berita bahwa di gereja ada bom sudah terlanjur tersebar dari mulut ke mulut dan mengakibatkan jumlah orang yang ke Gereja berkurang. Kelupaan tas sebenarnya dosa kecil, atau oblivio (kelalaian), tetapi lihat, dampaknya ternyata besar sekali.

Maka Gereja mengajak kita untuk melakukan laku silih untuk memohon ampun atas dosa dan kelemahan kita, namun juga untuk melatih diri untuk menghidupi laku hidup yang baik sebagai orang kristiani. Yang ditunjukkan oleh Gereja sebagai berikut: (lihat surat masa prapaskah dari Bishop Anthony Fisher):

  1. Pantang (abstinence) dari makan daging dan berpuasa yang harus dilaksanakan pada hari Rabu abu dan Jumat Agung. Semua yang sudah berusia genap 18 tahun dan belum mencapai 60 tahun wajib berpuasa. Semua yang sudah genap berusia 14 tahun wajib untuk melakukan pantang.
  2. Pada semua Jumat yang lain termasuk hari-hari Jumat dalam masa Prapaskah, hukum untuk melakukan silih dipenuhi jika melakukan satu dari hal berikut:
    1. Doa-misalnya menghadiri misa, doa dalam keluarga, visitasi (untuk berdoa) ke kapel atau Gereja, membaca Kitab Suci, berdoa jalan salib, doa rosario.
    2. Penyangkalan diri (self-denial) – misalnya tidak mengkonsumsi daging, makanan manis atau dessert, menghindari hiburan sehingga waktu lebih banyak untuk keluarga, mengurangi makanan dan minuman sehingga bisa memberi kepada orang-orang senegaranya, membatasi sosial media, smartphone atau televisi.
    3. Membantu sesama-misalnya dengan memberi perhatikan khusus kepada orang miskin, sakit, orangtua, kesepian atau yang berbeban berat. 
    4. Untuk di CIC, kita juga menyediakan amplop aksi puasa, yang jika sudah terkumpul akan kita masukkan ke kas sosial sehigga saat ada yang membutuhkan, terutama yang di Indonesia,  kita bisa membantu. Misalnya kita pernah membantu bush fire atau korban pemboman Gereja.

Selain itu umat juga wajib untuk menyambut komuni setidaknya satu kali dalam setahun antara Rabu Abu sampai hari Raya Tritungggal Mahakudus, 7 June 2020. Semua orang beriman wajib untuk mengakukan dosa berat minimal setahun sekali.

Selamat memasuki masa pertobatan, semoga latihan rohani kita membuahkan banyak rahmat.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

Coronavirus

Kita tahu bahwa corona virus telah menimbulkan banyak keresahan. Dan virus bisa menyebar dengan media bermacam-macam. Kontak dengan orang lain yang mengidap corona, dan lain-lain. Kekawatiran itu ada, maka kita perlu memperhatikan secara serius dan bersikap hati-hati. 

Sampai saat ini belum ada surat dari Keuskupan yang mengatur hal ini. Namun beberapa hal ini bisa dipertimbangkan. a). Untuk sementara, komuni Jumat Pertama yang menggunakan dua rupa (roti dan anggur) akan menjadi satu, hosti saja tanpa anggur. b). Komuni dianjurkan dengan tangan (bukan dengan lidah). Tetapi ini hanya anjuran. c). Saat Jumat Agung nanti, hanya pastor yang mencium salib. Yang lain cukup menyentuh dengan tangan. d). Hal lain diserahkan kepada masing-masing pribadi seperti saat salam damai mau berjabat tangan atau cukup menundukkan kepala, saat Bapa Kami akan bergandengan tangan atau tidak. Yang penting jika teman sebelahmu menolak diajak jabat tangan saat salam damai atau menolak bergandengan tangan. kita tidak usah merasa tersinggung. 

A Note From Chaplain

SIKAP LENGKET

Suatu hari saya mendapatkan pesan WA dari umat yang sudah senior, yang baru saja merayakan 50 tahun perkawinan. “Melupakan kesuksesan adalah kunci kebahagiaan.”  Kalimat ini tertinggal lama dihatiku.

Ya, kadang kita begitu lekat kepada pengalaman kesuksesan. Rm. Alex Dirdjo dalam buku kecilnya “Dyana:memetik buah-buah meditasi (Kanisius 2012), menulis bahwa segala macam kelengketan atau sikap lekat, lambat laun akan memadamkan seri kebahagiaan di hati.

Apa yang sering membuat kita lengket? Kita biasanya lengket pada sesuatu yang biasanya baik seperti sahabat-sahabat, pekerjaan, nama baik atau reputasi. Apa yang salah kalau kita terlalu lengket dengan hal-hal baik itu? Kita menjadi kurang bisa menangkap keindahan yang sekarang ini dan di tempat ini. Misalnya ada orang yang selalu mengingat sahabat baiknya yang sekarang berada di luar negeri. Kerinduan pada sahabat baiknya membuatnya tidak menikmati pekerjaannya sekarang ini.

Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh bangga dengan hal-hal baik di masa lalu. Yang tidak tepat adalah kalau kita terlalu lekat. Memory yang indah itu seperti foto pacar yang disimpan di dompet. Sesekali dilihat itu sangat baik karena menyemangati. Tetapi selalu melihat fotonya? Bisa membuat kita nabra-nabrak sewaktu berjalan. Pandanglah fotonya sesekali saja.

Anehnya kita kadang suka lengket kepada perasaan-perasaan negative. Ada orang yang lengket dengan rasa sakit hati, dendam, kecewa, atau iri hati. Dan kita tidak bisa melepaskan perasaan-perasaan negative itu.

Tidaklah manusiwai kalau kita tidak memiliki perasaan negative. Hidup kita pastilah pernah dan bahkan sering mengalami kekecewaan, iri hati, sakit hati dan sejenisnya. Rasakan itu tetapi juga lepaskanlah. Biarkan dia pergi. Dan jangan kita lengket dengan perasaan-perasaan itu.

Sementara menulis  artikel ini, lewat dan membawakanku sebotol air mineral, seorang pastor senior. Dia tersenyum dan menyodorkan air, “yang haus-yang haus” sambil tertawa lebar. Di masa lalu, dia orang hebat. Studi di Australia dan Filipina, dia telah banyak memberi retret untuk imam-imam dan suster-suster. Jabatan pastor kepala di paroki-paroki besar di Jakarta dan Jawa Tengah, pernah menjadi provincial dan superior, menjadi missionaris di luar negeri. Tapi kini, di usia tua, dia dengan sangat bebas menjadi pengurus rumah  tua. Dia menyiram bunga, melap daun-daun tanaman hias, ngepel lantai dan setrika dengan wajah berseri-seri. Sebenarnya dia paling tua di dalam ruamah tua itu, tetapi dia yang paling sehat. Karena dia tidak lengket dengan sukses masa lalu dia sangat peka dengan keindahan-keindahan kini dan di sini. Dahan-dahan yang ditiup angin, bunga-bunga, orang-rang yang berpapasan saat dia berbelanja di toko.

William Feather berkata, orang bijak mencari kegembiraan kecil-kecil yang ada di mana-mana karena sadar bahwa kegembiraan besar sedikit jumlahnya dan jarang muncul. Teman yang tersenyun sambil melambaikan tangan, keteduhan kolam yang luas, bunga-bunga indah di kejauhan, sudah  akan memberi kebahagiaan.

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC